Iran Pasang Ranjau Laut di Selat Hormuz Ancam Pelayaran Internasional

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Intelijen Amerika Serikat melaporkan bahwa militer Iran mulai memasang sejumlah ranjau laut di kawasan strategis Selat Hormuz tak lama setelah pecahnya konflik pada April 2026. Langkah tersebut dinilai membahayakan keamanan jalur pelayaran internasional karena jenis ranjau yang digunakan sangat sulit untuk dilacak secara manual.

Dilansir dari Detik iNET, keberadaan ranjau tersebut terdeteksi saat dua kapal perusak Amerika Serikat, USS Michael Murphy dan USS Frank E. Peterson, melintasi selat tersebut pada akhir pekan lalu. Meskipun berhasil lewat, kedua kapal tersebut dianggap tidak memiliki platform utama yang efektif untuk melakukan operasi pembersihan ranjau secara menyeluruh.

Mantan kapten Angkatan Laut Amerika Serikat, Carl Schuster, menjelaskan bahwa kapal perusak tersebut kemungkinan besar hanya melakukan demonstrasi navigasi untuk menunjukkan bahwa jalur tersebut masih bisa dilalui. Menurutnya, pembersihan ranjau yang sesungguhnya memerlukan peralatan khusus seperti drone bawah air dan helikopter dengan teknologi penanggulangan ranjau.

Ranjau yang dikerahkan Iran terdiri dari berbagai mekanisme pemicu yang kompleks, mulai dari ranjau kontak berduri hingga ranjau tekanan yang meledak saat volume air berubah. Beberapa jenis lainnya meliputi ranjau pengaruh listrik statis, ranjau magnetik, dan ranjau akustik yang merespons suara mesin kapal saat melintas di atasnya.

Terdapat dua metode utama untuk menanggulangi ancaman ini, yakni penyapuan dan pemburuan. Penyapuan dilakukan dengan memotong kabel jangkar ranjau agar mengapung ke permukaan untuk dihancurkan, sementara ranjau dasar laut harus diledakkan secara aman menggunakan peralatan yang meniru jejak magnetik atau suara kapal.

Namun, teknik penyapuan tradisional tidak mampu mendeteksi ranjau tekanan yang lebih canggih. Carl Schuster menyebutkan bahwa teknologi sonar dari drone bawah air atau laser yang dipasang pada helikopter menjadi solusi utama untuk menghancurkan ranjau jenis kompleks tersebut.

Kondisi keamanan di Selat Hormuz semakin menantang setelah Angkatan Laut AS memensiunkan empat kapal penyapu ranjau khusus mereka di Bahrain pada tahun lalu. Saat ini, tugas tersebut dialihkan ke tiga kapal tempur pesisir (LCS) yang lokasinya masih dirahasiakan, meski dua di antaranya sempat terlihat di Singapura.

"Ini adalah bidang di mana Angkatan Laut AS kemungkinan besar akan lebih mengandalkan sekutu dan mitra daripada yang diperkirakan orang," ujar Alessio Patalano, profesor perang dan strategi di King's College London.