Jumlah kasus Ebola yang terkonfirmasi di Republik Demokratik Kongo meningkat menjadi 260 kasus setelah otoritas memperbarui estimasi ukuran wabah pada Sabtu, 31 Mei 2026. Peningkatan ini memicu peringatan dari organisasi kesehatan internasional mengenai risiko penyebaran virus yang lebih luas.
Lonjakan infeksi ini dilansir dari Bloombergtechnoz berdasarkan laporan Menteri Kesehatan Roger Kamba dalam konferensi pers di Bunia, pusat wabah tersebut. Varian Bundibugyo yang langka ini telah dilaporkan di lebih dari selusin zona kesehatan di tiga provinsi Kongo, bahkan Uganda telah mencatat sembilan kasus.
Kementerian Kesehatan Kongo melaporkan jumlah kasus suspek sempat turun menjadi 349 pada Kamis dari puncaknya sebesar 1.077 kasus pada Selasa setelah pengujian laboratorium dilakukan. Otoritas setempat telah melakukan lebih dari 900 tes dan meningkatkan kapasitas pemrosesan sampel harian.
Kamba menjelaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat telah setuju mendukung penggunaan terapi antibodi eksperimental oleh Kongo dalam uji klinis tahap menengah untuk mengevaluasi efektivitasnya. Kongo juga memperoleh dukungan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) untuk melanjutkan uji klinis fase 2 tersebut.
Organisasi internasional Doctors Without Borders (MSF) menyoroti lambatnya penilaian situasi akibat ratusan sampel yang masih menunggu pengujian di laboratorium. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran karena epidemi dianggap menyebar lebih cepat daripada kemampuan tim respons di lapangan.
"Kenyataannya saat ini adalah tidak seorang pun mengetahui skala dan tingkat keparahan sebenarnya dari wabah ini," kata Alan Gonzalez, Wakil Direktur Operasi MSF.
Pihak MSF menambahkan bahwa lima dari 84 kasus baru terkonfirmasi pada akhir pekan lalu merupakan tenaga kesehatan di Bunia, yang menunjukkan lemahnya pengendalian infeksi.
"Belum pernah sebelumnya wabah Ebola mencatat begitu banyak kasus dalam waktu sesingkat ini setelah diumumkan," kata Alan Gonzalez, Wakil Direktur Operasi MSF.
Gonzalez juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kebijakan penutupan perbatasan dan bandara oleh sejumlah negara yang dianggap membatasi respons medis.
"Kami tahu dari pengalaman bahwa langkah-langkah ini sangat menghambat respons terhadap wabah dan mengisolasi negara-negara yang sangat membutuhkan dukungan internasional," kata Alan Gonzalez, Wakil Direktur Operasi MSF.
Menurutnya, jumlah organisasi medis yang turun ke lapangan masih sangat minim jika dibandingkan dengan skala kebutuhan penanganan wabah saat ini.
"Jumlah organisasi medis ahli yang merespons di lapangan masih sangat terbatas, dan tingkat dukungan yang diberikan, termasuk dari kami sendiri, masih jauh dari kebutuhan yang ada," kata Alan Gonzalez, Wakil Direktur Operasi MSF.
Sementara itu, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mendorong masyarakat terdampak untuk segera mencari perawatan medis meskipun belum ada vaksin resmi untuk strain Bundibugyo.
"Ebola yang disebabkan oleh virus Bundibugyo dapat disembuhkan dengan perawatan medis yang baik," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Tedros menegaskan pentingnya keterbukaan dan meminta negara-negara meninjau ulang pembatasan perjalanan karena dapat mengurangi transparansi penanggulangan.
"Beberapa orang di Ituri sudah berhasil pulih," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·