Kebijakan energi-industri: Menuju pertumbuhan berkelanjutan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Tahun 2026 belum genap berjalan, namun perekonomian Indonesia telah dihadapkan pada serangkaian ujian berat.

Data dari World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa Indonesia, kini berada di peringkat ke-40 dari 69 negara dalam World Competitiveness Ranking (WCR) 2025, sebuah penurunan signifikan dari posisi ke-27 pada tahun sebelumnya.

Dalam urusan pendidikan, Indonesia hanya berada di posisi ke-62, sementara untuk kesehatan dan lingkungan, peringkatnya adalah ke-63.

Efektivitas institusi pemerintah pun hanya mampu menempati peringkat ke-51. Survei Ahli Ekonomi LPEM FEB UI semester I 2026 juga mengonfirmasi hal ini: mayoritas dari 85 ekonom yang terlibat menilai kondisi ekonomi cenderung memburuk atau stagnan.

Ekspektasi inflasi meningkat, daya beli masyarakat terancam, sementara nilai tukar rupiah sempat menyentuh angka Rp17.000 per dolar AS.

Di tengah semua itu, pemerintah memilih untuk menahan harga BBM subsidi, sebuah langkah yang membantu mengendalikan inflasi dan menjaga biaya logistik, namun juga berisiko membebani APBN jika tidak dikelola dengan hati-hati.

Lebih jauh, laporan Global Risks Report 2025 dari WEF mengungkapkan bahwa para pemimpin bisnis global mengkhawatirkan Indonesia akan menghadapi lima risiko utama dalam dua tahun mendatang: dampak buruk dari perkembangan kecerdasan buatan (AI), pelemahan ekonomi, kemiskinan dan kesenjangan, cuaca ekstrem, serta kekurangan pasokan pangan.

Risiko-risiko ini, jika tidak diantisipasi, dapat memperparah tekanan yang sudah ada.

Sementara itu, di sektor energi, Energy Transition Index 2025 dari WEF menempatkan Indonesia di peringkat 58 dari 120 negara, turun empat posisi dari tahun sebelumnya dan berada di bawah Vietnam, Malaysia, hingga Thailand.

Ketergantungan pada energi fosil dan belum optimalnya kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) menjadi catatan penting.

Hanya saja, transisi menuju ekonomi hijau justru membuka peluang besar, dengan proyeksi penciptaan lapangan kerja baru, hingga 1,3 juta tenaga kerja di sektor energi terbarukan pada 2050, seperti dinukil dari Future of Jobs Report 2025 WEF.

Ujian global

Data-data di atas mempertegas bahwa ujian terbesar saat ini datang dari eksternal. Tarif resiprokal Amerika Serikat yang mencapai 19 persen telah memukul sektor ekspor andalan Indonesia, seperti industri logam, mesin, alat transportasi, elektronika (ILMATE), tekstil, dan alas kaki.

Pada saat yang sama, arus barang ilegal dari berbagai negara membanjiri pasar domestik: pakaian bekas (thrifting), mainan anak tanpa SNI, hingga produk elektronik tanpa dokumen kepabeanan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.