Kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu sentimen negatif di kalangan investor global, termasuk di pasar modal domestik. Kondisi ini kembali menciptakan ketidakpastian setelah periode tenang akibat gencatan senjata sementara.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyebut bahwa kebuntuan negosiasi meningkatkan persepsi risiko investor. Hal ini terutama karena kawasan Timur Tengah merupakan pusat distribusi energi dunia, dengan Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan minyak global.
“Jika sebelumnya pasar menikmati fase tenang akibat adanya kesepakatan gencatan senjata sementara, maka kondisi buntu dalam negosiasi ini kembali memunculkan ketidakpastian baru,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Minggu (12/4/2026).
Dalam situasi ini, pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham dan beralih ke instrumen safe haven. Akibatnya, pasar saham berpotensi mengalami tekanan, volatilitas meningkat, serta aliran dana asing menjadi lebih fluktuatif, khususnya di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Untuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepekan ke depan, Hendra memperkirakan indeks akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil. Sebelumnya, IHSG telah mengalami penguatan yang bersifat technical rebound atau relief rally.
Meski ditutup di level 7.458 pada Jumat pekan lalu, IHSG dinilai masih memiliki peluang melanjutkan penguatan terbatas. Namun, ruang kenaikan relatif sempit karena dibayangi sentimen global yang kembali tidak kondusif, seperti dilansir dari Money.
Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji area resistance di kisaran 7.500 hingga 7.550. Di sisi lain, indeks berpeluang kembali menguji area gap di posisi 7.308-7.346 yang menjadi support penting dalam jangka pendek.
Dalam skenario bearish, apabila eskalasi konflik meningkat, IHSG berpotensi terkoreksi menuju area 7.300 bahkan hingga 7.200. Ini seiring meningkatnya tekanan jual dan potensi capital outflow dari pasar saham Indonesia.
Sebaliknya, dalam skenario bullish, jika terdapat katalis positif seperti meredanya tensi geopolitik, IHSG berpeluang menguat menuju kisaran 7.550 hingga 7.600, meskipun penguatan diperkirakan masih terbatas.
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan pihaknya memutuskan meninggalkan perundingan damai dengan Iran, setelah tidak tercapai kesepakatan terkait komitmen pengembangan senjata nuklir. Pernyataan ini dikutip dari CNBC.
Dalam konferensi pers di Pakistan pada Minggu dini hari, Vance mengungkapkan bahwa pembicaraan yang berlangsung selama 21 jam menghasilkan sejumlah diskusi substantif, namun belum membuahkan kesepakatan.
“Kami telah berunding selama 21 jam dan melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar baiknya. Kabar buruknya, kami belum mencapai kesepakatan,” ungkap Vance usai perundingan.
Menurut Vance, titik krusial yang menjadi penghambat adalah keengganan Iran untuk menghentikan ambisinya dalam mengembangkan senjata nuklir. Ia menekankan perlunya komitmen tegas dari Iran.
“Kami membutuhkan komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir, dan tidak akan mencari sarana yang memungkinkan mereka dengan cepat mencapainya,” katanya.
Vance menambahkan, hal tersebut merupakan tujuan utama Presiden Donald Trump dalam negosiasi. “Namun, mereka memilih untuk tidak menerima syarat kami,” lanjutnya.
Selama proses negosiasi, Vance mengaku berkomunikasi intensif dengan sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, serta Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper.
“Kami terus berkomunikasi dengan tim karena kami bernegosiasi dengan itikad baik,” kata Vance, yang berbicara didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner.
Pemerintah AS telah mengajukan proposal final yang disebut sebagai penawaran terbaik. Namun, keputusan akhir kini berada di tangan Iran untuk menerima atau menolak. “Kita lihat apakah pihak Iran akan menerimanya,” ucap Vance.
Sementara itu, berbagai laporan media pemerintah Iran menyebut adanya perbedaan tajam dalam negosiasi sebagai penyebab kegagalan pembicaraan. Ini termasuk terkait permintaan pemindahan material nuklir ke luar negeri dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kantor berita Tasnim menyebut tuntutan AS yang “berlebihan” sebagai penghambat tercapainya kesepakatan. Perundingan itu berakhir hanya beberapa hari setelah diumumkannya gencatan senjata selama dua pekan yang masih rapuh.
Pernyataan Vance tidak menjelaskan apa yang akan terjadi setelah periode gencatan senjata tersebut berakhir atau apakah gencatan senjata akan tetap berlaku. Konflik di Timur Tengah juga melibatkan serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon, menambah kompleksitas situasi.
Delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf juga sempat membahas upaya melanjutkan gencatan senjata dengan pihak AS dan Pakistan. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan jumlah korban tewas akibat konflik tersebut telah melampaui 2.000 orang.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·