Kegagalan Negosiasi AS&Iran Tekan Rupiah ke Level Rp17.304

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Nilai tukar rupiah merosot tajam sebesar 123 poin hingga menyentuh angka Rp17.304 per dolar AS dalam transaksi pada Kamis (23/4/2026) siang. Pelemahan sebesar 0,72 persen dari posisi penutupan sebelumnya dipicu oleh kebuntuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Pengamat ekonomi mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kegagalan perundingan yang difasilitasi oleh Pakistan menjadi faktor eksternal utama. Kondisi ini diperparah dengan ketegangan di Selat Hormuz yang mengganggu stabilitas pasar energi global.

"Salah satu penyebabnya, pertama adalah masalah eksternal, dimana pertemuan di minggu ini antara AS dan Iran yang difasilitasi Pakistan gagal. Iran tidak ikut dalam perundingan tersebut karena AS sudah menyalahi aturan dalam gencatan senjata dengan melakukan penangkapan terhadap kapal tanker Iran yang melewati Selat Hormuz," ucap Ibrahim Assuaibi dalam rekaman suara di Jakarta, Kamis.

Ibrahim memaparkan bahwa Iran kini dalam posisi siap menghadapi konflik berkepanjangan karena hilangnya kepercayaan terhadap pihak Amerika Serikat. Upaya gencatan senjata sepihak yang didorong AS disertai syarat pengambilalihan pengayaan uranium dan aturan tarif di Selat Hormuz ditolak mentah-mentah oleh Teheran.

Kenaikan harga minyak mentah dunia turut memberikan tekanan besar pada sisi internal ekonomi Indonesia. Harga minyak Brent yang menembus 103 dolar AS per barel serta tertahannya kapal tanker Pertamina di wilayah konflik mengancam ketahanan anggaran negara.

"Kita melihat kebutuhan impor minyak dunia Indonesia itu adalah 1,5 juta barel per hari. Kita harus tahu kebutuhan minyak mentah di Indonesia dalam satu hari itu adalah 2,1 juta barel per hari, sehingga pemerintah harus menyiapkan anggaran yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan minyak tersebut," kata Ibrahim.

Besarnya beban subsidi energi dan utang pemerintah yang mendekati jatuh tempo menjadi sentimen negatif tambahan bagi kinerja mata uang garuda. Defisit anggaran diprediksi akan terus melebar jika pemerintah tidak segera menyesuaikan harga BBM subsidi di tengah lonjakan harga minyak mentah.

"Tidak menaikkan harga BBM subsidi ini membuat subsidi pemerintah semakin besar, sehingga harus mencari anggaran-anggaran dari departemen-departemen (kementerian) lain untuk membantu subsidi terhadap Pertalite. Ini yang bisa membuat defisit anggaran kembali lagi mengalami pelebaran," ujar Ibrahim.

Lonjakan harga minyak yang jauh melampaui asumsi APBN 2026 sebesar 70-92 dolar AS per barel mengharuskan pemerintah mencari pendanaan besar. Saat ini, kurs rupiah telah melampaui target APBN yang sebelumnya ditetapkan pada level Rp16.500 per dolar AS.

"Kemungkinan besar di akhir April yaitu minggu depan, kemungkinan akan tembus level Rp17.400 per dolar AS," ungkap Ibrahim.