Jakarta (ANTARA) - Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menggandeng sejumlah organisasi, termasuk Barisan 8 Center dalam kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat pembangunan desa, dengan target membentuk 5.000 desa ekspor di seluruh Indonesia.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto mengatakan bahwa kolaborasi tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah pusat yang menempatkan desa sebagai subjek, bukan sekadar objek pembangunan.
"Kita ini support team, bukan Superman. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam membangun desa, semua elemen harus terlibat aktif dan memiliki desa binaan sesuai potensi masing-masing wilayah," kata Yandri setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama di Kantor Kemendes PDT di Kalibata, Jakarta, Selasa.
Baca juga: Mendes lepas ekspor 11,5 ton gula aren organik Pacitan ke tiga negara
Baca juga: Mendes minta ANTARA-TVRI masifkan publikasi kisah sukses dari desa
Yandri menjelaskan bahwa pengembangan desa ekspor merupakan salah satu dari 12 aksi prioritas pembangunan desa. Saat ini, sejumlah komoditas unggulan, seperti kopi, vanili, kemiri, dan gula aren berhasil menembus pasar internasional.
Melalui kemitraan ini, Kemendes PDT menargetkan percepatan transformasi desa agar lebih mandiri dan berdaya saing, sekaligus menyelesaikan persoalan mendasar, seperti akses air bersih, listrik, dan wilayah tanpa sinyal.
"Kalau ada pemberdayaan, harus ada pendampingan. Kami ingin membangun persepsi bahwa desa adalah pusat pertumbuhan ekonomi. Jika desa maju, Indonesia akan maju," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Barisan 8 Center, Andrio Caesario menyatakan kesiapannya menjadi mitra pemerintah dalam memperkuat akses pasar global bagi produk-produk desa.
Fokus utama organisasi ini adalah memastikan hasil sumber daya alam desa memberikan nilai tambah ekonomi langsung bagi petani.
"Kami membantu mencarikan pasar ekspor dan memastikan regulasi yang mendukung, sehingga produk desa memiliki daya saing global. Untuk tahap awal, Jawa Barat menjadi salah satu percontohan dengan fokus pada komoditas kopi Arabika," kata Andrio.
Selain akses pasar, organisasi tersebut juga menyiapkan dukungan teknologi berupa aplikasi pemetaan potensi desa berbasis geotagging. Sistem ini memuat data luas lahan hingga kualitas komoditas secara mendalam.
Baca juga: Kemendes siap ciptakan ribuan desa ekspor demi tingkatkan ekonomi
"Melalui aplikasi ini, pembeli dari luar negeri bisa mengetahui potensi desa secara langsung dari hulu hingga hilir, sehingga proses transaksi menjadi lebih transparan dan efisien," kata dia.
Ia berharap kolaborasi ini dapat memperkuat ekosistem ekonomi perdesaan sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memeratakan kesejahteraan dan memberantas kemiskinan dari tingkat paling bawah.
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·