Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan resmi membuka masa penawaran instrumen investasi syariah Sukuk Tabungan seri ST016 pada Jumat, 8 Mei 2026. Produk Surat Berharga Negara (SBN) Ritel ini dapat dipesan oleh investor domestik maupun diaspora hingga awal Juni mendatang dengan nilai investasi mulai dari Rp1 juta.
Penerbitan ST016 menjadi instrumen SBN Ritel ketiga yang diluncurkan pemerintah sepanjang tahun 2026. Berdasarkan data historis yang dikutip dari Bisnis, Sukuk Tabungan secara konsisten mencatatkan kelebihan permintaan sejak diperkenalkan satu dekade lalu karena fitur imbal hasil mengambang dengan batas minimal.
Direktur Pembiayaan Syariah Kemenkeu Deni Ridwan memberikan penekanan pada pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan investasi bagi seluruh lapisan masyarakat. Kemudahan akses melalui perangkat pribadi diharapkan mampu mendorong kontribusi publik dalam mendukung pembiayaan pembangunan nasional secara masif.
"Investasi bisa dimulai dari Rp1 juta melalui perangkat pribadi, termasuk bagi diaspora di luar negeri," kata Deni Ridwan, Direktur Pembiayaan Syariah Kemenkeu.
Pemerintah secara khusus membidik kelompok diaspora sebagai basis investor potensial karena kekuatan jejaring global yang mereka miliki. Penawaran ini juga mencakup keunggulan berupa beban pajak yang lebih rendah dibandingkan dengan produk deposito perbankan konvensional pada umumnya.
"Kami mengajak masyarakat, khususnya diaspora, untuk mulai berinvestasi secara bertahap sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam pembangunan nasional sekaligus membangun kemandirian finansial di masa depan," ujar Deni Ridwan.
Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia Murniati Mukhlisin menyarankan adanya alokasi pendapatan tetap untuk investasi setiap bulannya. Menurutnya, instrumen sukuk merupakan pilihan aman bagi keluarga muda karena adanya jaminan penuh dari negara terhadap profil risiko investasi tersebut.
"Minimal 10 persen pendapatan bulanan dialokasikan untuk investasi. Kalau tidak ada cicilan utang bisa sampai 40 persen," ujar Murniati Mukhlisin, Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia.
Direktur Utama Bank Syariah Matahari Muhammad Iman Sastra Mihajat menyatakan bahwa keamanan modal investor pada instrumen ini didukung oleh peringkat kredit tertinggi pada skala nasional. Saat ini, terdapat kecenderungan peningkatan partisipasi dari investor kalangan generasi Z dan milenial dalam pasar surat utang negara.
"Sukuk negara itu rating-nya sudah paling atas. Sangat aman karena dijamin negara, jadi kemungkinan uang tidak kembali itu sangat kecil," ujar Muhammad Iman Sastra Mihajat, Direktur Utama Bank Syariah Matahari.
Iman berpendapat bahwa daya tarik ST016 terletak pada imbal hasil yang kompetitif bagi perencanaan keuangan jangka panjang. Sosialisasi terus dilakukan untuk mengintegrasikan instrumen syariah ke dalam aktivitas finansial harian masyarakat luas.
"Saya melihat sukuk sebagai salah satu investasi paling aman. Memang return-nya tidak terlalu tinggi, tetapi rata-rata cukup baik. Pajaknya juga rendah," kata Muhammad Iman Sastra Mihajat.
Analisis pasar menunjukkan bahwa dominasi pemuda dalam kepemilikan sukuk mencerminkan kesadaran finansial yang semakin matang. Hal ini juga diperkuat dengan dukungan komunitas internasional terhadap posisi ekonomi syariah di Indonesia.
"Mayoritas investor sukuk justru berasal dari generasi Z dan milenial," ujarnya.
Head of Financial Controlling Airbus Helicopters Arabia Harri Gemilang menyoroti nilai prestise bagi warga negara Indonesia di luar negeri yang memiliki aset negara. Kepemilikan instrumen ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menjamin masa depan keluarga bagi para diaspora.
"Bagi diaspora, memiliki sukuk negara itu seperti naik kelas. Jadi bukan hanya bicara soal tenor dan kupon, tetapi juga soal masa depan keluarga," kata Harri Gemilang, Head of Financial Controlling Airbus Helicopters Arabia.
Sekretaris Jenderal IAEI Sutan Emir Hidayat menambahkan bahwa potensi remitansi diaspora global yang mencapai 850 miliar dolar AS per tahun dapat menjadi mesin penggerak ekonomi. Integrasi teknologi digital menjadi faktor kunci untuk menyinergikan modal diaspora dengan kebutuhan domestik.
"With kemudahan akses digital, kami mendorong diaspora untuk mulai berinvestasi dari diri sendiri secara konsisten, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, industri, dan komunitas global agar ekonomi syariah Indonesia mampu tampil sebagai kekuatan yang lebih kompetitif di tingkat dunia," ujar Sutan Emir Hidayat, Sekretaris Jenderal IAEI.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·