Kemenperin Dorong Substitusi Kemasan Kertas Hadapi Krisis Pasokan Bahan Baku

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Kementerian Perindustrian membuka peluang besar bagi industri untuk mengalihkan penggunaan kemasan plastik ke bahan berbasis kertas guna menghadapi krisis pasokan bahan baku akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Langkah strategis ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, di Jakarta pada Selasa (21/4/2026).

Upaya pendorongan utilisasi kemasan kertas ini dilatarbelakangi oleh tekanan geopolitik global yang mengganggu distribusi logistik internasional. Dilansir dari Bloombergtechnoz, industri kemasan kertas saat ini dinilai semakin kompetitif dan memiliki potensi besar untuk memperkuat kemandirian industri nasional di tengah ketidakpastian pasar dunia.

"Nah jadi yang kita lakukan di [Ditjen] Agro, yaitu salah satunya adalah tadi bagaimana kita mendorong kemasan, kemasan yang berbasis pada kertas. Nah yang berbasis pada kertas ini masih banyak yang bisa di-utilize," kata Putu Juli Ardika, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin.

Kemenperin mencatat penggunaan kemasan kertas saat ini baru mencapai 28 persen, angka yang masih berada di bawah dominasi kemasan plastik sebesar 48 persen. Pihak kementerian terus melakukan pemetaan pasar untuk mempertemukan produsen kemasan non-plastik dengan para pengguna potensial di sektor pangan.

"Non plastik ini [seperti] kertas paperboard, sebenarnya udah dikenal, sudah banyak digunakan ya seperti umpamanya untuk susu, untuk jus dan untuk banyak lagi," ujar Putu Juli Ardika, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin.

Diversifikasi ini juga mencakup penggunaan gelas kaca yang saat ini kontribusinya baru berkisar 3 persen. Putu menyatakan peningkatan penggunaan gelas kaca hingga 6 persen dapat memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan industri kaca dalam negeri.

"Dan ini sudah kompetitif, ya itu yang sedang kita coba business matching-kan, [untuk] mempertemukan antara pengguna dan produsennya. Nah ini yang sedang kita lakukan," tutur Putu Juli Ardika, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita telah melakukan pertemuan intensif dengan para pelaku industri hulu hingga hilir petrokimia pada Kamis (16/4/2026). Pertemuan tersebut membahas langkah mitigasi terhadap gangguan rantai pasok yang mulai dirasakan oleh sektor manufaktur domestik.

"Pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat yang berdampak terhadap produksi dan stok subsektor ini," ujar Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.

Agus menegaskan bahwa meskipun pasokan plastik di dalam negeri saat ini masih tersedia, namun gejolak di Selat Hormuz telah memicu distorsi harga yang cukup tajam. Masalah utama terletak pada kenaikan biaya logistik dan durasi pengiriman bahan baku impor yang membengkak drastis.

"Waktu pengiriman yang sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari. Kondisi ini tentu berdampak pada peningkatan beban biaya produksi" tutur Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.