Calon Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memaparkan rencana ambisius untuk merombak total kebijakan bank sentral Amerika Serikat dalam sidang konfirmasi di hadapan Komite Perbankan Senat pada Selasa, 21 April 2026. Warsh berupaya meyakinkan legislator mengenai independensinya di tengah tekanan politik terkait suku bunga.
Perombakan yang diusulkan mencakup perubahan rezim dalam pelaksanaan kebijakan dan kerangka inflasi baru bagi bank sentral. Saat ini, Federal Reserve menargetkan inflasi tahunan sebesar 2%, sebuah target yang menurut Warsh sering meleset dalam beberapa tahun terakhir.
"We need a new framework, new tools, and I'd also say, Mr. Chairman, new communications," kata Kevin Warsh, Nomine Ketua Federal Reserve.
Warsh menyampaikan kritik terhadap pola komunikasi pejabat bank sentral saat ini yang dinilai terlalu berlebihan, terutama melalui perkiraan kuartalan anonim terkait arah suku bunga. Dalam paparannya, ia juga mengakui kehadiran istrinya, Jane Lauder, yang merupakan eksekutif senior di perusahaan kosmetik global.
"I do have a disagreement, actually, with the president. I think even this morning he said that he thought I was out of central casting. But I’d look older, gray, or maybe show up here with a cigar of sorts," ujar Kevin Warsh, Nomine Ketua Federal Reserve.
Interaksi tersebut terjadi saat Senator Elizabeth Warren mempertanyakan kemampuan Warsh untuk menjaga kebijakan moneter dari intervensi politik Presiden Donald Trump. Warren mengingatkan bahwa kemandirian institusi merupakan satu-satunya cara untuk mempertahankan integritas Federal Reserve.
"Quite adorable," balas Elizabeth Warren, Senator Demokrat.
"But, you know, we need a Fed chair who is independent," sambung Elizabeth Warren, Senator Demokrat.
"That’s the only way we preserve the independence of the Federal Reserve. If you can’t answer these questions, you don’t have the courage and you don’t have the independence," tegas Elizabeth Warren, Senator Demokrat.
Warren meluncurkan kritik tajam terhadap rekam jejak Warsh saat menjabat sebagai Gubernur Fed selama krisis finansial 2008. Ia menuduh Warsh terlalu memihak CEO Wall Street melalui pengaturan dana talangan miliaran dolar tanpa memberikan perlindungan bagi keluarga Amerika.
"Mr. Warsh was a Fed governor from 2006 to 2011, that’s before, during and after the crash, and he said to me that he has no regrets about anything he did," ucap Elizabeth Warren, Senator Demokrat.
"He was quick to respond to concerns from Wall Street CEOs, and he worked tirelessly to arrange multibillion-dollar bailouts for them with nothing for American families. No regrets, he says," tambah Elizabeth Warren, Senator Demokrat.
Di sisi lain, Senator Republik Tim Scott selaku ketua komite memberikan dukungannya kepada Warsh. Namun, tantangan datang dari Senator Republik Thom Tillis yang berjanji akan memblokir pemungutan suara konfirmasi tersebut.
"I do not believe the operational independence of monetary policy is particularly threatened when elected officials — presidents, senators, or members of the House — state their views on interest rates," tulis Kevin Warsh, Nomine Ketua Federal Reserve dalam kesaksian tertulisnya.
Warsh menegaskan bahwa independensi bank sentral sebagian besar bergantung pada keteguhan lembaga itu sendiri dalam menghadapi berbagai pandangan politik. Ia menekankan pentingnya keterbukaan terhadap ide-ide baru serta kemampuan menerjemahkan data ekonomi yang tidak sempurna.
"Central bankers must be strong enough to listen to a diversity of views from all corners … humble enough to be open-minded to new ideas and new economic developments … wise enough to translate imperfect data into meaningful," pungkas Kevin Warsh, Nomine Ketua Federal Reserve.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·