Kemudahan Paylater dan Perubahan Cara Berpikir tentang Uang

Sedang Trending 49 menit yang lalu

EKONOMI digital telah mengubah cara masyarakat bekerja, berbelanja, dan mengelola uang.

Dahulu, seseorang membeli barang setelah uang tersedia. Kini, masyarakat dapat membeli barang lebih dulu dan membayarnya kemudian melalui layanan beli sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL), yang di Indonesia lebih populer disebut paylater.

Di satu sisi, paylater dapat membantu masyarakat ketika menghadapi kebutuhan mendesak. Namun, di sisi lain, kemudahan ini juga dapat mengubah cara berpikir tentang uang.

Harga barang yang seharusnya terasa besar menjadi tampak ringan karena dipecah menjadi cicilan bulanan.

Pada titik inilah masalah mulai muncul ketika masyarakat tidak lagi bertanya, “Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?”, tetapi “Apakah cicilannya masih sanggup saya bayar?”

Pertanyaan kedua terlihat rasional, tetapi dapat berbahaya jika tidak disertai kesadaran finansial.

Sebab, kemampuan mencicil tidak selalu sama dengan kemampuan membeli.

Seseorang bisa merasa mampu karena cicilan terlihat kecil, padahal pendapatannya tidak stabil, dana darurat belum tersedia, dan kebutuhan pokok bulan depan belum tentu aman.

Paylater dan Kerentanan Ekonomi Gig

Fenomena paylater semakin penting dibaca dalam konteks ekonomi gig atau gig economy, yaitu pola kerja berbasis proyek, tugas, platform digital, dan hubungan kerja yang tidak selalu tetap.

Pekerja lepas, freelancer, pengemudi transportasi daring, kreator konten, tenaga proyek, dan pekerja berbasis aplikasi hidup dalam pola pendapatan yang tidak selalu pasti.

Mereka bisa memperoleh penghasilan besar pada bulan tertentu, tetapi mengalami penurunan pada bulan berikutnya.

Kondisi tersebut menekankan bahwa pekerja lepas dan pekerja gig membutuhkan disiplin keuangan yang lebih kuat karena mereka tidak selalu memiliki gaji tetap, tunjangan, asuransi dari pemberi kerja, atau kepastian proyek jangka panjang.

Strategi seperti memisahkan rekening pribadi dan rekening pekerjaan, mencatat arus kas, menyiapkan dana darurat tiga sampai enam bulan, memiliki asuransi mandiri, serta melakukan diversifikasi pendapatan menjadi sangat penting.

Dalam situasi pendapatan tidak stabil, paylater sering muncul sebagai alat untuk menjaga ritme konsumsi.

Ketika pemasukan terlambat, cicilan terasa seperti jalan tengah. Ketika proyek belum cair, paylater terasa seperti jembatan. Namun, jika tidak hati-hati, jembatan itu dapat berubah menjadi lubang utang baru.

Terdapat kajian yang menunjukkan bahwa pekerja gig menghadapi ketidakpastian pendapatan dan tekanan kesejahteraan mental, terutama ketika kondisi ekonomi memburuk.

Artinya, fleksibilitas kerja memang memberi kebebasan, tetapi juga membawa risiko finansial yang harus dikelola dengan serius.

Ketika Keinginan Menyamar sebagai Kebutuhan

Masalah utama dalam penggunaan paylater bukan semata-mata pada teknologinya. Masalahnya terletak pada perilaku manusia ketika berhadapan dengan kemudahan.

Dalam banyak kasus, batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur.

Kebutuhan adalah sesuatu yang jika tidak dipenuhi akan mengganggu hidup, kesehatan, pekerjaan, pendidikan, dan tanggung jawab keluarga.

Makanan, obat, biaya sekolah, tempat tinggal, transportasi kerja, dan kebutuhan rumah tangga dasar termasuk dalam kategori kebutuhan.

Adapun keinginan adalah sesuatu yang memberi kenyamanan, kesenangan, status sosial, atau kepuasan emosional, tetapi tidak harus dipenuhi saat itu juga.

Pakaian bermerek, gawai terbaru, liburan, aksesori, hobi mahal, dan belanja karena tren sering kali masuk dalam kategori ini.

Dalam kehidupan digital, keinginan sering tampil seolah-olah sebagai kebutuhan. Iklan membuat orang merasa tertinggal jika tidak membeli.

Media sosial membuat gaya hidup orang lain terlihat seperti standar hidup normal.

Diskon dan cashback menciptakan perasaan “rugi jika tidak membeli”. Padahal, tidak membeli barang yang tidak diperlukan bukanlah kerugian.

Justru itu adalah bentuk kemenangan kecil dalam mengendalikan diri.

Terdapat kajian ilmiah yang menyatakan bahwa penggunaan layanan beli sekarang bayar nanti atau buy now pay later dapat memperkuat materialisme, pembelian impulsif, dan perilaku konsumtif apabila tidak disertai kontrol diri dan literasi keuangan yang memadai.

Cicilan Kecil, Beban Besar

Salah satu daya tarik paylater adalah membuat pengeluaran terasa ringan. Barang seharga Rp 2 juta terasa berat jika dibayar tunai, tetapi menjadi tampak mudah ketika dibayar Rp 200.000 per bulan.

Masalahnya, manusia sering tidak hanya memiliki satu cicilan. Satu cicilan kecil ditambah cicilan kecil lain dapat berubah menjadi beban besar.

Fenomena outstanding pinjaman perseorangan, termasuk paylater dan pinjaman online, sepanjang 2025 mencapai Rp 82,98 triliun.

Angka itu meningkat jauh dibandingkan tahun 2021 yang sebesar Rp 15,31 triliun.

Pengguna layanan ini banyak berasal dari kelompok usia 19 sampai 34 tahun, yaitu kelompok yang sedang membangun karier, membentuk pola konsumsi, dan memulai kehidupan ekonomi mandiri.

Angka tersebut memberi pesan penting. Paylater bukan sekadar fasilitas pembayaran, ia telah menjadi bagian dari budaya konsumsi.

Ketika masyarakat terbiasa membeli dengan cicilan, orientasi belanja bisa bergeser yang semula berbasis kebutuhan berubah menjadi berbasis kemampuan mencicil. Inilah titik rawan dalam kesehatan keuangan rumah tangga.

Dalam konteks regulasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Beli Sekarang Bayar Nanti.

Regulasi ini penting untuk memperkuat tata kelola, manajemen risiko, dan perlindungan konsumen.

Namun, regulasi saja tidak cukup. Perlindungan konsumen harus berjalan bersama literasi keuangan dan kedewasaan perilaku konsumsi.

Menjaga Harta dan Mengendalikan Hawa Nafsu

Dari perspektif syariah, persoalan paylater bukan hanya urusan teknis pembayaran, ia menyentuh persoalan moral, spiritual, dan pengelolaan amanah.

Islam tidak melarang manusia menikmati kehidupan, Islam juga tidak menolak teknologi, inovasi, atau kemudahan transaksi. Namun, Islam mengajarkan keseimbangan, kehati-hatian, dan tanggung jawab.

Dalam maqashid syariah, menjaga harta atau hifz al-mal merupakan salah satu tujuan penting.

Menjaga harta bukan berarti sekadar menumpuk kekayaan, tetapi memastikan harta diperoleh, digunakan, dan dikelola secara benar.

Harta tidak boleh menjadi alat untuk memenuhi hawa nafsu tanpa batas. Harta juga tidak boleh digunakan untuk menjerumuskan diri ke dalam tekanan utang yang merusak ketenangan hidup.

Menjaga hawa nafsu menjadi sangat krusial dalam ekonomi digital. Hawa nafsu tidak selalu hadir dalam bentuk besar.

Ia sering hadir dalam bentuk kecil: ingin membeli karena diskon, ingin terlihat mampu, ingin mengikuti tren, ingin tidak kalah dari teman, atau ingin mendapatkan pengakuan dari media sosial.

Jika keinginan kecil ini terus diikuti, ia dapat membentuk gaya hidup yang lebih besar daripada kemampuan.

Dalam bahasa keuangan modern, kondisi ini disebut konsumsi tidak terkendali.

Dalam bahasa syariah, kondisi ini dekat dengan sikap berlebihan atau israf. Keduanya bertemu pada pesan yang sama, yaitu manusia perlu mengendalikan diri sebelum dikendalikan oleh keinginannya.

Paylater Bukan Tambahan Penghasilan

Kesalahan umum dalam menggunakan paylater adalah menganggapnya sebagai tambahan daya beli.

Padahal, paylater bukan pendapatan, tetapi paylater adalah kewajiban masa depan. Ketika seseorang menggunakan paylater hari ini, ia sedang memindahkan beban pembayaran ke bulan berikutnya.

Bagi pekerja bergaji tetap, risiko ini sudah cukup besar. Bagi pekerja gig dan freelancer, risikonya lebih besar lagi karena pendapatan mereka tidak selalu stabil.

Karena itu, paylater sebaiknya hanya diposisikan sebagai alat manajemen arus kas, bukan alat untuk menaikkan gaya hidup.

Dokumen yang menjadi dasar tulisan ini menyarankan agar total cicilan bulanan tidak melebihi 30 persen dari pendapatan bersih, serta mendorong penggunaan metode penganggaran 50/30/20, yaitu 50 persen untuk kebutuhan, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen untuk tabungan atau investasi.

Namun, bagi pekerja dengan pendapatan tidak tetap, angka 30 persen tetap harus dibaca dengan hati-hati.

Jika pendapatan berfluktuasi tajam, batas aman sebaiknya dihitung dari rata-rata pendapatan terendah, bukan dari pendapatan tertinggi. Banyak orang terjebak utang bukan karena tidak pernah memiliki uang, tetapi karena mengatur hidup berdasarkan bulan terbaik, bukan bulan terburuk.

Pendidikan keuangan sering kali berbicara tentang anggaran, tabungan, investasi, dan utang.

Semua itu penting. Namun, dalam masyarakat yang sangat dipengaruhi iklan, media sosial, dan budaya konsumsi, literasi keuangan perlu dilengkapi dengan literasi spiritual.

Literasi keuangan mengajarkan cara menghitung kemampuan. Literasi spiritual mengajarkan cara menahan keinginan. Literasi keuangan membantu seseorang menyusun anggaran.

Literasi spiritual membantu seseorang bertanya apakah sesuatu benar-benar layak dibeli. Literasi keuangan membuat masyarakat memahami biaya, denda, dan cicilan.

Literasi spiritual mengingatkan bahwa ketenangan hidup tidak selalu datang dari memiliki lebih banyak barang.

Di sinilah prinsip syariah menjadi relevan bagi kehidupan modern. Syariah tidak hanya berbicara tentang halal dan haram secara formal. Syariah juga mengajarkan keseimbangan hidup, tanggung jawab, kesederhanaan, dan perlindungan terhadap diri sendiri serta keluarga dari beban yang tidak perlu.

Menunda Bukan Berarti Tidak Mampu

Salah satu kemampuan finansial yang mulai hilang di era digital adalah kemampuan menunda. Padahal, menunda pembelian bukan tanda tidak mampu.

Menunda pembelian adalah tanda bahwa seseorang mampu mengelola prioritas.

Sebelum menggunakan paylater, ada beberapa pertanyaan sederhana yang perlu diajukan. Apakah barang ini benar-benar dibutuhkan?

Apakah pembelian ini bisa ditunda? Apakah cicilannya tetap aman jika pendapatan bulan depan menurun? Apakah barang ini mendukung produktivitas atau hanya memberi kepuasan sesaat? Apakah keputusan ini lahir dari kebutuhan atau dari dorongan emosi?

Pertanyaan-pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi dapat menyelamatkan banyak orang dari utang konsumtif. Tidak semua promo harus diambil.

Tidak semua barang viral harus dibeli. Tidak semua gaya hidup orang lain harus ditiru. Dalam banyak kasus, kemampuan berkata “nanti dulu” lebih berharga daripada kemampuan berkata “beli sekarang”.

Paylater adalah produk zaman. Ia lahir dari perkembangan teknologi, perubahan perilaku konsumen, dan kebutuhan ekonomi digital.

Karena itu, paylater tidak perlu dimusuhi. Yang perlu dikendalikan adalah cara manusia menggunakannya.

Jika digunakan secara bijak, paylater dapat membantu mengatur arus kas.

Namun, jika digunakan untuk mengejar gengsi, mengikuti tren, dan memuaskan keinginan sesaat, paylater dapat berubah menjadi jerat.

Ia membuat hidup terlihat mudah hari ini, tetapi menumpuk tekanan di masa depan.

Bagi masyarakat, terutama generasi muda dan pekerja gig, tantangannya bukan hanya mencari penghasilan lebih besar, tetapi juga mengelola keinginan agar tidak tumbuh lebih cepat daripada pendapatan.

Bagi regulator, tantangannya bukan hanya membuat aturan, tetapi memastikan perlindungan konsumen berjalan seiring dengan literasi keuangan.

Bagi industri, tantangannya bukan hanya memperluas pasar, tetapi ikut menjaga agar inovasi tidak mendorong masyarakat masuk ke dalam konsumsi yang rapuh.

Pada akhirnya, kemajuan ekonomi digital tidak boleh hanya diukur dari banyaknya transaksi. Ia juga harus diukur dari sehatnya perilaku keuangan masyarakat.

Hidup yang baik bukan hidup yang semua keinginannya bisa dicicil, tetapi hidup yang kebutuhannya terpenuhi, hartanya terjaga, dan hawa nafsunya terkendali.

Ketika semua bisa dicicil, manusia perlu lebih bijak memilih. Sebab, tidak semua yang bisa dibeli harus dimiliki.

Tidak semua yang ringan di awal akan ringan di akhir, dan tidak semua kemudahan membawa kebaikan jika tidak disertai pengendalian diri.