Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan industri perbankan nasional tetap tangguh dan solid pada Minggu (17/5/2026) meski belakangan menghadapi tekanan risiko inflasi akibat perang Iran yang berkepanjangan. Dilansir dari Bloomberg Technoz, kekuatan modal perbankan dinilai memadai untuk menyerap potensi risiko dari ketidakpastian global saat ini.
Kinerja perbankan Indonesia ditopang oleh permodalan yang kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 25,09% per Maret 2026. Selain itu, kualitas kredit juga berada dalam kondisi terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross di level 2,14%, yang berarti masih berada di bawah ambang batas aman sebesar 3%.
Lembaga pengawas ini secara rutin menggelar stress test atau uji ketahanan bersama industri perbankan guna mengantisipasi berbagai tekanan ekonomi dan geopolitik ke depan. Simulasi yang dilakukan mencakup berbagai skenario ekstrem seperti kenaikan harga energi, perlambatan pertumbuhan ekonomi, depresiasi nilai tukar rupiah, hingga lonjakan suku bunga yang berpotensi menurunkan nilai aset bank.
“Hasil stress test OJK maupun perbankan menunjukkan bahwa tingkat permodalan perbankan saat ini masih memadai untuk menghadapi risiko yang disebabkan oleh perubahan signifikan dalam kondisi makroekonomi Indonesia,” kata Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK.
OJK kini terus meningkatkan koordinasi dengan pemerintah dan lembaga yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) demi menjaga stabilitas sektor keuangan domestik dari dinamika global.
“OJK senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah serta pemangku kepentingan terkait untuk memperkuat bauran kebijakan, monitoring, dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan,” tutur Dian Ediana Rae.
Kondisi eksternal mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan pendek pekan ini yang bertepatan dengan masa libur Kenaikan Yesus Kristus. Rupiah sempat terdepresiasi hingga menembus level Rp 17.500/US$ pada Selasa (12/5/2026), yang menjadi posisi penutupan terlemah sepanjang sejarah, sebelum akhirnya ditutup di level Rp 17.465/US$ pada Rabu (13/5/2026).
Pelemahan mata uang ini tidak hanya dialami Indonesia, melainkan melanda hampir seluruh mata uang utama di Asia akibat penguatan Dollar Index sebesar 1,4% dalam pekan ini. Yen Jepang melemah 1,3%, yuan China turun 0,25%, rupee India merosot 1,64%, won Korea Selatan anjlok 2,46%, dolar Taiwan melemah 0,83%, baht Thailand menyusut 1,43%, ringgit Malaysia turun 0,73%, dolar Singapura melemah 1,08%, peso Filipina turun 0,01%, dan dolar Hong Kong terdepresiasi 1,87%.
Penguatan dolar AS memicu ancaman inflasi yang tinggi hingga memunculkan kekhawatiran terjadinya kondisi ekonomi yang terlalu panas di tingkat global.
“Jika Anda melihat komponen non-energi, seperti jasa, maka ada indikasi bahwa ekonomi sudah overheating. The Fed harus berpikir bagaimana memecah rantai eskalasi inflasi,” tegas Austan Goolsbee, Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve) Chicago.
53 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·