Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi pada Senin (20/4/2026) mulai menekan margin keuntungan sejumlah emiten di sektor transportasi dan manufaktur akibat fluktuasi harga energi global. Kondisi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi strategis di Selat Hormuz.
Dilansir dari Money, penyesuaian harga di pasar domestik merupakan langkah yang sulit dihindari pemerintah guna merespons dinamika pasokan minyak dunia. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa pasar sebenarnya telah mengantisipasi risiko kenaikan harga akibat gangguan pada jalur perdagangan energi global tersebut.
"Dari sisi makro dan sentimen pasar memang kenaikan BBM nonsubsidi ini harus dilakukan karena adanya kenaikan harga minyak global. Kalau dinamika selat Hormuz kan memang terjadi pembukaan jalur atau penutupan jalur kan," ujar Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas.
Nafan menilai dampak kebijakan ini tidak seragam karena sangat bergantung pada struktur biaya masing-masing perusahaan serta keberadaan skema dukungan pemerintah. Emiten yang masih mendapatkan perlakuan harga khusus atau subsidi operasional diprediksi mampu meredam lonjakan biaya produksi secara lebih efektif.
"Kalau misalkan terdapat subsidi, misalnya untuk emiten berbasis transportasi dan logistik dan manufaktur, tentunya masih bisa menekan cost structure. Bisa menekan cost-nya," papar Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas.
Sektor logistik yang mendistribusikan kebutuhan pokok cenderung lebih stabil karena penggunaan BBM bersubsidi tetap dipertahankan untuk mencegah inflasi. Sebaliknya, emiten berbasis industri lebih rentan karena harga energi mereka mengikuti fluktuasi pasar bebas secara langsung.
"Bagi energi kan sedang tinggi permintaan naik, permintaan tinggi tapi harganya naik masalahnya. Cuma kalau misalnya untuk BBM buat industri biasanya si beda lagi kan harganya, bisa jadi yang mengikuti dinamika market, tentunya juga berdampak kejadian ini kan bisa menekan harga emiten di sektor tersebut," sebut Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas.
Tren penurunan harga saham di sektor konsumsi domestik juga sudah terlihat sebagai bentuk antisipasi pasar terhadap pelemahan daya beli masyarakat kelas menengah. Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyoroti adanya pergeseran minat konsumen menengah ke atas ke arah kendaraan listrik.
"Untuk kelompok menengah ke atas yang biasa mengkonsumsi Pertamax Turbo atau Pertamina Dex ya ada kecenderungan memang beralih ke mobil listrik atau EV," ungkap Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Eksekutif Celios.
Meskipun demikian, peralihan ke kendaraan listrik bagi kelompok menengah masih terhambat oleh kenaikan biaya produksi komponen akibat gangguan rantai pasok global. Penyesuaian harga jual kendaraan listrik di pasar membuat opsi ini belum sepenuhnya kompetitif bagi sebagian besar masyarakat.
"Tapi untuk yang kelompok menengah masih menimbang-nimbang gitu ya kenapa? Karena efek dari gangguan produksi dan juga rantai pasok di selat hormuz itu berpengaruh juga terhadap komponen dan juga biaya produksi bagi EV, harga jual EV-nya juga mengalami penyesuaian ya," sebut Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Eksekutif Celios.
Faktor lain yang memengaruhi keputusan konsumen adalah berkurangnya berbagai insentif fiskal untuk pengadaan kendaraan listrik pada tahun 2026. Hal ini menyebabkan daya tarik kendaraan ramah lingkungan menjadi lebih terbatas dibandingkan periode sebelumnya.
"Kemudian juga mempertimbangkan insentif-insentif EV, kan yang banyak berkurang di 2026 ini Jadi memang setiap kelompok masyarakat itu akan memiliki perilaku konsumsi terhadap EV yang berbeda-beda," lanjut Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Eksekutif Celios.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·