Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 6 Persen

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh pada kisaran 5,4 persen hingga 6 persen pada 2026 di tengah ketidakpastian global yang dilaporkan pada Senin (20/4/2026). Stabilitas makroekonomi nasional tetap terjaga berkat konsumsi domestik yang kuat serta surplus perdagangan yang konsisten.

Kinerja ekonomi nasional saat ini dinilai lebih tangguh dibandingkan banyak negara lain karena didukung oleh tingkat inflasi yang rendah serta rasio utang yang terkendali. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap difungsikan sebagai instrumen pelindung daya beli masyarakat dari guncangan pasar internasional.

"Kita mendorong industri hilir, memperkuat sektor manufaktur, dan meningkatkan sumber daya manusia dan efisiensi. Jadi ke depannya, pertumbuhan Indonesia tidak hanya akan stabil, tetapi juga akan lebih produktif dan berkelanjutan serta menjadi lebih terdiversifikasi dan tangguh," ujar Purbaya, Menteri Keuangan.

Pemerintah kini mulai mengalihkan fokus pembangunan melalui tiga pilar utama yang mencakup investasi, industrialisasi, dan peningkatan produktivitas nasional. Strategi ini diambil untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berkualitas dan tidak hanya sekadar menjaga stabilitas angka semata, sebagaimana dilansir dari Money.

Ketahanan ekonomi Indonesia juga mendapatkan pengakuan internasional dalam rangkaian pertemuan G20, di mana reformasi struktural yang konsisten dianggap sebagai kunci utama. Meskipun terdapat arus modal keluar senilai 1,8 miliar dollar AS akibat konflik di Timur Tengah, kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia tetap dianggap solid.

Sektor teknologi informasi menjadi salah satu motor penggerak baru dengan pertumbuhan mencapai 8,35 persen pada 2025 melalui penguatan infrastruktur digital. Pemerintah juga mulai mengintegrasikan penggunaan kecerdasan buatan (AI) guna mendongkrak efisiensi ekonomi nasional di berbagai lini industri.

Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan apresiasi terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai kuat di tengah gejolak pasar keuangan internasional. Lembaga tersebut menjuluki Indonesia sebagai titik terang dalam peta perekonomian global karena disiplin kebijakan yang diterapkan secara konsisten.

Otoritas fiskal tetap memantau sejumlah risiko seperti dampak otomatisasi pada pasar tenaga kerja dan potensi kenaikan harga energi dunia. Pemerintah berkomitmen memperkuat bantalan fiskal guna menjaga stabilitas harga bahan bakar bersubsidi dan melindungi konsumsi masyarakat dalam jangka panjang.