Bahlil Lahadalia Targetkan Indonesia Bebas Impor Gas pada 2030

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan optimisme tinggi bahwa Indonesia mampu menekan angka impor gas secara signifikan. Keyakinan ini muncul menyusul penemuan cadangan gas dalam skala masif di sumur Geliga-1, Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur.

Dilansir dari Detik Finance, sumur tersebut menyimpan potensi gas raksasa sebesar 5 triliun kaki kubik (Tcf) serta 300 juta barel kondensat. Wilayah Kerja (WK) Ganal sendiri saat ini dikelola oleh perusahaan migas asal Italia, Eni.

Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa Eni diproyeksikan mampu mencapai puncak produksi hingga 2.000 MMSCFD pada tahun 2028. Angka ini meningkat pesat jika dibandingkan dengan kapasitas produksi saat ini yang berada di kisaran 600 hingga 700 MMSCFD.

Target tersebut akan terus dipacu hingga mencapai produksi sebesar 3.000 MMSCFD pada tahun 2030 mendatang. Peningkatan ini menjadi bagian dari peta jalan pemerintah untuk memperkuat kedaulatan energi nasional di sektor gas bumi.

\\"lni adalah strategi untuk bagaimana gas kita, tidak kita lakukan impor dari negara manapun, kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri kita, dan gas ini kita akan dorong untuk industri hilirisasi"\\

Ujar Bahlil saat memberikan keterangan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Senin (20/4/2026). Selain potensi gas, temuan unsur kondensat dalam jumlah besar juga diprediksi akan berdampak positif pada pengurangan impor minyak mentah.

Bahlil memproyeksikan penambahan kondensat dari temuan ini bisa mencapai sekitar 90 hingga 150 ribu barel pada tahun 2030. Hal tersebut dianggap krusial untuk menekan ketergantungan terhadap crude oil dari luar negeri.

\\"Kedua, ini akan mengurangi import crude kita dengan penambahan kondensatnya kurang lebih sekitar 90 sampai 150 ribu barel nanti pada tahun 2030"\\

Sambungnya dalam kesempatan yang sama. Operasi di sumur Geliga melibatkan pengeboran hingga kedalaman 5.100 meter di bawah permukaan laut dengan kedalaman air mencapai 2.000 meter.

Keberhasilan di sumur Geliga semakin memperkuat rekam jejak eksplorasi Eni di Cekungan Kutai. Sebelumnya, perusahaan tersebut juga mencatatkan temuan besar di Geng North pada tahun 2023 dan sumur Konta-1 pada tahun 2025.

Penemuan gas di sumur Geliga terjadi setelah adanya keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) untuk sejumlah proyek strategis. Proyek tersebut mencakup Gendalo dan Gandang di South Hub, serta Geng North dan Gehem di North Hub.

Untuk mendukung pengembangan North Hub, pemerintah akan mengoperasikan fasilitas terapung baru berupa Floating Production Storage and Offloading (FPSO). Fasilitas ini memiliki kapasitas olah hingga 1 miliar kaki kubik gas per hari (bscfd) dan 90.000 barel kondensat per hari (bpd).

Skema pengembangan ini juga akan mengintegrasikan infrastruktur yang sudah tersedia, termasuk pemanfaatan Kilang LNG Bontang. Langkah ini diambil untuk mempercepat proses monetisasi cadangan gas yang telah ditemukan.

Selain sumur Geliga, Bahlil juga menyoroti temuan di sumur Gula yang menghasilkan gas sekitar 2 TCF dan 75 juta barel kondensat. Kombinasi dari kedua sumur ini diestimasi mampu menambah produksi nasional hingga 1.000 mmscfd gas dan 90.000 bpd kondensat.

Besarnya cadangan di Blok Ganal tidak hanya meningkatkan stok migas nasional, tetapi juga membuka keran percepatan pembangunan infrastruktur gas yang terintegrasi. Eni kini tengah melakukan evaluasi untuk mensinergikan temuan baru dengan proyek-proyek eksisting.