Komite II DPD RI dukung Kementan perkuat IB demi mutu genetik ternak

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Komite II DPD RI mendukung penguatan inseminasi buatan (IB) Kementerian Pertanian guna meningkatkan mutu genetik ternak, produktivitas peternak, serta memperkuat ketahanan pangan nasional berkelanjutan melalui layanan reproduksi.

"Inseminasi buatan merupakan isu strategis yang harus dikawal bersama karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan nasional," kata Ketua Komite II DPD RI asal Nusa Tenggara Timur (NTT) Angelius Wake Kako atau yang akrab disapa Angelo sebagaimana keterangan diterima di Jakarta, Minggu.

Dia menekankan hal itu dalam kunjungan kerja ke Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Jawa Barat. Angelo turut menjadi peserta pelatihan petugas inseminasi buatan (IB) atau inseminator.

Sebagai Pimpinan Komite II DPD RI yang membidangi sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, Angelo menegaskan inseminasi buatan merupakan isu strategis yang harus dikawal bersama karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan nasional.

Balai Inseminasi Buatan Lembang merupakan unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Pertanian yang berperan strategis dalam penyediaan semen (sperma) beku berkualitas dan pengembangan teknologi reproduksi ternak.

"Namun dalam pelaksanaannya, masih terdapat tantangan terkait rendahnya tingkat adopsi teknologi oleh peternak, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia atau inseminator, serta kendala distribusi semen beku ke berbagai daerah di Indonesia,” ujar Angelo.

Menurut dia, kondisi tersebut perlu dijawab melalui penguatan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan agar efektivitas program inseminasi buatan dapat meningkat.

Selain itu, diperlukan penyusunan kebijakan yang lebih responsif dan berbasis kebutuhan peternak sehingga pelaksanaan program berjalan optimal serta memberikan manfaat nyata bagi peningkatan produktivitas ternak.

Angelo juga menilai petugas inseminator bukan hanya menjalankan tugas teknis, tetapi menjadi pendamping penting bagi peternak dalam meningkatkan kualitas usaha.

“Kehadiran negara harus benar-benar dirasakan hingga ke tingkat peternak dan petugas lapangan. Ketika inseminator kuat, maka peternak juga akan lebih percaya diri dalam mengembangkan usahanya, dan pada akhirnya ketahanan pangan nasional akan semakin kokoh,” katanya.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda mengatakan subsektor peternakan memiliki peran strategis dalam penyediaan protein hewani berupa daging, susu, dan telur untuk mendukung ketahanan pangan nasional, yang menjadi salah satu prioritas Presiden periode 2025–2029.

Menurut Agung, untuk daging ayam dan telur Indonesia sudah surplus. Namun, untuk daging sapi dan kerbau, produksi nasional pada 2026 baru diproyeksikan mencapai 479 ribu ton atau sekitar 50 persen dari kebutuhan nasional sebesar 964 ribu ton.

Sementara produksi susu segar dalam negeri baru memenuhi sekitar 20 persen dari kebutuhan nasional.

Ia menegaskan pemerintah terus berupaya meningkatkan populasi dan produktivitas sapi dan kerbau, antara lain melalui penerapan teknologi inseminasi buatan.

"Tujuan dari IB (inseminasi buatan) adalah memperbaiki mutu genetik ternak, meningkatkan angka kelahiran ternak secara teratur, mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul, dan mencegah penularan penyakit,” kata Agung.

Baca juga: Komite II DPD RI fokus awasi penerapan UU LH di Babel

Baca juga: Bulog dan Komite II DPD RI jaga stabilitas pasokan dan harga pangan

Ia menambahkan, pemerintah telah memastikan ketersediaan semen beku berkualitas melalui dua Balai Inseminasi Buatan nasional, yakni Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari di Jawa Timur dan BIB Lembang di Jawa Barat.

“Artinya kita sudah swasembada semen beku dari sisi jumlah. Saat ini stok semen beku di BIB Lembang mencapai 6,9 juta dosis, sementara di BBIB Singosari sebanyak 4,8 juta dosis,” ujarnya.

Program inseminasi buatan juga telah menunjukkan hasil nyata. Melalui Upsus SIWAB dan SIKOMANDAN pada 2017–2023, layanan telah menjangkau 25,5 juta akseptor sapi dengan kelahiran ternak mencapai 13,85 juta ekor atau setara nilai ekonomi Rp69,3 triliun.

Pada 2026, Kementerian Pertanian menargetkan layanan IB di 20 provinsi wilayah introduksi dengan fasilitasi 250 ribu dosis semen beku dan 14.089 liter nitrogen cair, serta target kelahiran pedet sebanyak 142.500 ekor pada 2027.

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.