Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penopang Ekonomi RI di Tengah Tekanan Global

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Ketahanan ekonomi Indonesia dilaporkan tetap kuat di tengah gejolak global, dengan konsumsi rumah tangga menjadi pilar utama. Kontribusi sektor ini mencapai sekitar 54 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menurut penilaian Mandiri Institute.

Peran konsumsi ini dinilai krusial sebagai penahan guncangan eksternal. Namun, kemampuan ini sangat bergantung pada keberlanjutan daya beli masyarakat, demikian dilansir dari Money pada Minggu (12/4/2026).

Mandiri Institute menyoroti adanya pergeseran signifikan dalam struktur ekonomi domestik. Diperkirakan 86 juta penduduk, atau sekitar sepertiga dari total populasi, kini berada dalam kategori kelas menengah transisi.

Kelompok ini mencakup masyarakat yang sedang beranjak ke kelas menengah serta mereka yang termasuk kelas menengah bawah. Karakteristik kelompok ini dinamis, namun di sisi lain rentan terhadap dampak tekanan ekonomi.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyebut kelompok transisi ini sebagai 'titik krusial' dalam peta struktur perekonomian nasional.

“Tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat di zona transisi memiliki daya dorong yang cukup untuk terus naik ke level ekonomi yang lebih mapan secara berkelanjutan,” ujar Asmo pada Minggu (12/4/2026).

Data yang dihimpun antara tahun 2019 hingga 2025 memperlihatkan perubahan komposisi. Jumlah kelompok kelas menengah bawah mengalami penurunan lebih dari 11 juta orang, sementara kelompok yang menuju kelas menengah cenderung stagnan. Sebaliknya, kelas menengah atas justru bertambah sekitar 416 ribu orang.

Perbedaan mencolok di antara kelompok ini terletak pada kualitas pekerjaan. Lebih dari 50 persen individu dalam kelompok transisi sudah bekerja di sektor formal. Namun, angka ini masih tertinggal sekitar 28 poin persentase jika dibandingkan dengan kelas menengah yang lebih mapan.

Kondisi ini secara langsung membatasi kemampuan mereka untuk menabung dan mengumpulkan aset. Akibatnya, risiko finansial meningkat saat tekanan ekonomi terjadi.

Struktur pengeluaran kelompok transisi juga menunjukkan keterbatasan signifikan. Mayoritas pendapatan mereka dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pengeluaran untuk mobilitas mencapai 20 persen, perumahan 13 persen, dan tagihan rutin 10 persen.

Alokasi untuk kesehatan dan pendidikan berada di kisaran 15 persen. Adapun sisa pendapatan yang digunakan untuk konsumsi sekunder, seperti gaya hidup dan pembelian barang tahan lama, hanya sekitar 18 persen.

Keterbatasan ini berdampak langsung pada kepemilikan aset cadangan. Hanya 21 persen rumah tangga dari kelompok menuju kelas menengah yang memiliki aset likuid seperti emas. Angka ini jauh di bawah kelompok kelas menengah atas yang mencapai 69 persen.

Mandiri Institute menegaskan bahwa penguatan kualitas pekerjaan menjadi faktor kunci untuk mendorong mobilitas ekonomi. Perluasan lapangan kerja di sektor produktif dinilai esensial guna meningkatkan pendapatan masyarakat secara signifikan.

Langkah strategis ini harus diiringi dengan upaya perbaikan iklim investasi dan kemudahan berusaha di Indonesia. Selain itu, stimulus fiskal juga diperlukan untuk mendorong ekspansi sektor riil guna menciptakan lebih banyak kesempatan kerja.

Estimasi menunjukkan bahwa lebih dari 2 juta orang dari kelompok transisi memiliki potensi untuk naik kelas ekonomi. Mereka umumnya memiliki pekerjaan yang lebih stabil, daya beli yang lebih kuat, dan akumulasi aset cadangan yang lebih baik.

“Namun, perluasan lapangan kerja ini harus diimbangi dengan upaya peningkatan produktivitas pekerja, yang menjadi kunci utama untuk menaikkan pendapatan secara riil dan berkelanjutan,” pungkas Asmo.