Para pemimpin negara Asia Tenggara berkumpul di Filipina dalam KTT Asean tahunan pada Kamis (7/5/2026) untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan ketahanan regional. Pertemuan ini difokuskan pada upaya menghadapi guncangan energi global akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu stabilitas kawasan.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, blok beranggotakan 11 negara tersebut berupaya merumuskan respons terpadu terhadap lonjakan biaya energi dan gangguan pasokan. Selain isu ekonomi, para pemimpin juga menjadwalkan pembahasan mengenai situasi keamanan di Laut Cina Selatan, konflik Myanmar, serta ketegangan perbatasan Thailand-Kamboja.
Menteri Luar Negeri Filipina, Ma. Theresa Lazaro, dalam pembukaan pertemuan menteri di Cebu, menekankan pentingnya kesiapan kelembagaan dalam menghadapi krisis global yang sedang berlangsung.
"Dengan mempertimbangkan pengalaman kita, diskusi kita telah menunjukkan bahwa Asean perlu memperkuat koordinasi krisis dan kesiapan kelembagaan," kata Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa Lazaro.
Lazaro menambahkan bahwa momentum pertemuan ini terjadi di saat yang sangat krusial bagi stabilitas Asia Tenggara di tengah dinamika geopolitik dunia.
"Saat kita berkumpul hari ini, kita melakukannya pada momen yang sangat penting bagi kawasan kita," kata Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa Lazaro.
Filipina mencatat bahwa kawasan Asia Tenggara mengimpor sekitar 66 persen minyak mentah, sehingga konflik di Timur Tengah secara langsung memicu kenaikan harga pangan dan bahan bakar. Kondisi ini memberikan tekanan berat pada sektor transportasi, pariwisata, hingga nasib pekerja migran.
Juru bicara Asean, Dominic Xavier Imperial, menyampaikan bahwa Manila mendorong adanya pernyataan resmi dari para pemimpin guna memperkuat koordinasi darurat di masa depan.
Pemerintah Filipina juga berupaya menggalang dukungan untuk deklarasi kerja sama maritim, terutama dalam menghadapi ketegangan di wilayah perairan yang bersinggungan dengan China. KTT ini berlangsung bersamaan dengan latihan militer gabungan yang melibatkan Amerika Serikat, Jepang, dan Australia di sekitar titik rawan.
Dalam upaya meredam tekanan pasokan, Filipina selaku tuan rumah mengusulkan mekanisme berbagi cadangan bahan bakar antaranggota dan meminta negara-negara menghindari pembatasan perdagangan barang. Namun, pengamat menilai implementasi kebijakan tersebut akan menghadapi tantangan besar karena kebijakan proteksionisme beberapa negara anggota.
"Seiring krisis semakin dalam, negara-negara anggota akan terus memprioritaskan kepentingan domestik daripada komitmen regional," kata Joycee Teodoro, analis senior Asia Tenggara di Control Risks.
Komentar tersebut merujuk pada langkah Thailand yang baru-baru ini memutuskan untuk menangguhkan ekspor minyak ke negara lain, kecuali untuk pasokan ke Laos dan Myanmar.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·