Likuidasi Bitcoin Capai 135 Juta Dolar Saat Ketegangan Iran Meningkat

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Nilai Bitcoin bertahan di atas level 81.500 dolar AS pada Senin, 11 Mei 2026, meskipun pasar kripto diguncang likuidasi posisi berleverage senilai 135 juta dolar AS. Gejolak ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal perjanjian damai Iran.

Data pasar menunjukkan Bitcoin sempat menyentuh angka tertinggi di level 82.458 dolar AS pada Minggu malam sebelum mengalami konsolidasi. Sepanjang Senin pagi, aset kripto utama ini bergerak fluktuatif dengan sempat anjlok ke 80.536 dolar AS sebelum kembali menguat menuju zona resistensi 82.000 dolar AS menurut laporan news.bitcoin.com.

Total likuidasi posisi perdagangan mencapai hampir 135 juta dolar AS dalam kurun waktu 24 jam terakhir, dengan kerugian terbesar dialami oleh pemegang posisi long sebesar 88 juta dolar AS. Kapitalisasi pasar Bitcoin tercatat tetap kokoh di angka 1,64 triliun dolar AS meskipun hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,3 persen dalam sehari.

Sentimen pasar global cenderung stagnan karena para investor mengantisipasi dampak penolakan Trump terhadap tawaran Iran yang dianggapnya tidak dapat diterima. Kondisi tersebut juga memicu kenaikan harga minyak mentah Brent hingga mencapai 105 dolar AS per barel di tengah kekhawatiran gangguan rantai pasok global.

CEO Aramco, Amin Nasser, memberikan peringatan keras mengenai potensi hambatan jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz. Nasser memproyeksikan normalisasi pasokan energi dunia dapat tertunda hingga tahun depan jika jalur tersebut tetap terganggu.

"Jika Selat Hormuz dibuka hari ini, pasar masih membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali seimbang, dan jika pembukaannya tertunda beberapa minggu lagi, maka normalisasi akan berlanjut hingga 2027," kata Nasser, CEO Aramco.

Pernyataan tersebut disampaikan Nasser dalam panggilan konferensi hasil kinerja kuartal pertama perusahaan. Ancaman terhadap stabilitas ekonomi regional ini kian nyata seiring tidak adanya kesepakatan diplomasi antara Washington dan Teheran yang dapat memicu risiko resesi sistemik global.