LPEM UI Sebut Fenomena Masyarakat Tarik Utang dan Kuras Tabungan Meningkat

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Tren masyarakat yang menarik utang dan menguras tabungan dilaporkan meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena ini mengindikasikan bahwa daya beli serta daya tahan ekonomi masyarakat semakin menipis, seperti dikutip dari Money.

Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky, memaparkan kondisi tersebut dalam sebuah diskusi bertajuk "5,61 Persen Tumbuh Tapi Rapuh" yang diselenggarakan oleh Aliansi Ekonom Indonesia di Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

"Dari penggunaan belanja masyarakat. Ada yang dikonsumsi, ada yang ditabung, ada yang ngambil utang. Ternyata belakangan ini uh tren untuk narik utang dan memakan tabungan itu semakin uh meningkat," kata Riefky.

Menurut analisis Riefky, fenomena ekonomi ini terjadi akibat adanya ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi nasional dan pertumbuhan daya beli masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.

Pada kurun waktu 2009 hingga 2016, produk domestik bruto (PDB) Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,6 persen. Pada periode yang sama, upah riil atau daya beli masyarakat yang berbasis gaji mampu tumbuh hingga 6,3 persen.

"Dulu, kita tumbuh kisaran 5 persen per tahun, upah riil kita tumbuh 6 persen. Artinya pertumbuhan ekonomi dinikmati sebagian besar masyarakat Indonesia," ujar Riefky.

Namun, situasi tersebut mengalami perubahan pada periode 2017 hingga 2025. Pertumbuhan ekonomi nasional relatif bertahan di kisaran 5 persen, tetapi dampaknya tidak banyak dirasakan oleh masyarakat luas.

Penyebabnya adalah ketika PDB bertumbuh 5 persen, tingkat daya beli masyarakat ternyata hanya mampu tumbuh sebesar 2 persen.

"Ini yang membuat mungkin kenapa atau kira-kira menjelaskan kenapa kita tumbuh tapi masyarakat merasa hidupnya enggak lebih sejahtera," jelas Riefky.

Riefky juga menyoroti data penurunan jumlah kelas menengah di Indonesia yang signifikan, yakni merosot dari 57 juta orang pada tahun 2019 menjadi tinggal 47 juta orang pada tahun 2025.

Kondisi kelompok kelas menengah ini dinilai sangat penting untuk diperhatikan karena mereka menjadi salah satu motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Kenaikan konsumsi dari kelompok masyarakat miskin dianggap belum cukup kuat untuk mendorong roda perekonomian.

"Cuma belanja middle class dan upper class yang mendorong pertumbuhan ekonomi," kata dia.

Selain memiliki peran besar dalam aspek konsumsi, kelompok kelas menengah juga menjadi salah satu penyumbang penerimaan pajak terbesar bagi negara. Oleh karena itu, penyusutan jumlah kelompok ini berisiko membuat penerimaan pajak ikut tertahan.

Dampak Terhadap Stabilitas Sosial

Kelas menengah di Indonesia juga banyak diisi oleh kelompok masyarakat terdidik. Kelompok ini memiliki kecenderungan untuk menyampaikan kritik secara terbuka ketika kualitas hidup mereka mengalami penurunan.

Riefky kemudian menyinggung adanya data historis yang menunjukkan korelasi kuat antara pergolakan sosial dan fenomena penyusutan jumlah kelas menengah di suatu negara.

"Korelasi yang pernah dilakukan oleh Pak Dede, Pak Chatib Basri, itu menunjukkan negara-negara yang middle class-nya shrinking itu ada korelasi dengan peningkatan social unrest. Demo, pergantian rezim, bahkan kudeta," kata dia.