Frankfurt (ANTARA) - Sektor penerbangan Eropa menghadapi krisis terparah sejak pandemi 2020, saat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah yang mendorong harga bahan bakar jet ke level tertinggi dalam beberapa tahun dan memaksa maskapai-maskapai besar merombak strategi mereka.
Dalam laporan pendapatan kuartal pertama (Q1) yang dipublikasikan pada Rabu (6/5), maskapai nasional Jerman Lufthansa mengatakan telah melakukan lindung nilai (hedging) sekitar 80 persen kebutuhan bahan bakar jetnya.
Terlepas dari langkah tersebut, mereka memperkirakan biaya terkait bahan bakar pada 2026 akan meningkat sebesar 1,7 miliar euro (1 Euro = Rp20.422), hampir 24 persen lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, terutama didorong oleh melonjaknya harga energi dan terganggunya pasar penerbangan global.
Grup tersebut mengatakan mereka berencana mengimbangi beban tambahan melalui pendapatan tiket yang lebih tinggi, optimalisasi jaringan, dan langkah pemangkasan biaya lebih lanjut dalam beberapa kuartal mendatang.
"Krisis yang sedang berlangsung di Timur Tengah, dikombinasikan dengan kenaikan biaya bahan bakar dan kendala operasional, menimbulkan tantangan besar bagi ekonomi global, industri penerbangan, dan perusahaan kami," ujar CEO Lufthansa Carsten Spohr.
Sebuah pesawat Lufthansa (belakang) dan sebuah pesawat EasyJet terlihat setelah tiba di Bandara Berlin Brandenburg yang baru dibuka di Schoenefeld, Jerman, pada 31 Oktober 2020. ANTARA/XInhua/HO-Thomas Trutschel/photothek Menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional (International Air Transport Association/IATA), harga bahan bakar jet melonjak 106,6 persen secara tahunan pada Maret di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Di Eropa, harga telah naik ke level tertinggi sejak 2022.
Analis di Allianz Trade menggambarkan situasi yang sama suramnya, dengan memperkirakan bahwa tarif penerbangan internasional telah naik antara 5 hingga 15 persen.
Direktur Jenderal IATA Willie Walsh mengatakan bahwa meskipun industri ini masih dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan saat lockdown pandemi 2020, krisis bahan bakar saat ini muncul sebagai guncangan paling serius bagi penerbangan global sejak COVID-19.
Menurut sebuah studi yang dirilis oleh Allianz Trade pekan lalu, Eropa hanya memproduksi setengah dari kerosin yang dibutuhkan oleh pasar domestiknya, sehingga sektor penerbangan di kawasan itu bergantung pada impor untuk memenuhi sisa kebutuhan bahan bakar jetnya.
Sejumlah maskapai Eropa telah memperkenalkan langkah-langkah untuk menghadapi kenaikan biaya bahan bakar dan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan.
Air France-KLM mengatakan pihaknya berencana mengenakan biaya tambahan hingga 50 euro pada penerbangan jarak jauh, sementara EasyJet dan Ryanair memperingatkan bahwa tarif dapat naik lebih lanjut jika pasar bahan bakar tetap ketat. Lufthansa mengatakan pihaknya telah menerapkan kenaikan harga tiket.
Foto arsip menunjukkan pesawat-pesawat Air France yang diparkir di landasan setelah Bandara Orly mengumumkan penutupannya karena lalu lintas udara menurun di tengah pandemi virus corona, selatan Paris, Prancis, 3 April 2020. ANTARA/XInhua/Aurelien Morissard
Analis di Allianz Trade menggambarkan situasi yang sama suramnya, dengan memperkirakan bahwa tarif penerbangan internasional telah naik antara 5 hingga 15 persen.
Lufthansa juga sedang mengevaluasi opsi transit untuk rute jarak jauhnya ke Asia dan Afrika sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kegagalan pengisian bahan bakar di bandara tujuan.
Menyoroti seriusnya krisis pasokan, Spohr mengatakan, kita hanya bisa terbang jika kita memiliki bahan bakar.
Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·