Memanen kristal di pesisir Indramayu

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Kenapa garam saja kita harus impor? Pasarnya jelas. Sayang kalau potensi alam di Indramayu tidak dilirik. Kejar swasembada itu benar dan bisa terealisasi

Indramayu (ANTARA) - Terik mentari di pesisir Desa Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (7/5) pagi itu terasa garang. Panasnya terlalu menyengat dan membuat orang tak betah berlama-lama di sana.

Kendati demikian, suasana berbeda justru terlihat di dalam tunnel garam di kawasan itu. Para petani tampak asyik menyerok kristal-kristal putih, komoditas yang sudah lama mereka dambakan.

Hamparan geomembran hitam membuat warna garam semakin putih, nyaris tanpa semburat kecokelatan yang lazim terlihat pada garam tambak tradisional.

Kilau kecil memantul ke mana-mana saat cahaya matahari masuk dari sela plastik, menyulap tunnel itu seperti ladang kristal.

Di area tersebut, Sujitno berdiri sambil menunjuk endapan garam yang mulai mengeras di dasar petak produksi.

Butir keringat pun mengalir di pelipisnya. Wajahnya tampak tenang, meski usaha yang sedang dilakoninya sebenarnya masih sangat baru.

Beberapa bulan lalu, lelaki tersebut lebih banyak menghabiskan waktu sebagai petani padi dan peternak.

Ide membuat garam muncul, seusai dirinya mendapat dorongan dari beberapa rekannya yang melihat potensi di kawasan pesisir.

“Kawasan Juntinyuat itu bagus. Ada sawah, ada laut, ada peternak juga bisa,” kata Sujitno saat berbincang dengan ANTARA.

Ia lalu membangun tunnel bersama teman-temannya secara bertahap. Pengerjaannya tidak dilakukan sekaligus karena mereka harus mengurus sawah.

Satu tunnel, membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk selesai dibangun dengan biaya sekitar Rp40 juta.

Sistem tunnel garam di Desa Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (7/5/2026). ANTARA/Fathnur Rohman.

Ia melihat usaha garam sebagai investasi jangka panjang, karena sistem produksinya bisa terus digunakan setelah selesai dibangun.

Produksi perdana mereka baru berjalan sekitar setengah bulan. Hasil panen garam mencapai sekitar lima kuintal atau setara 10 karung.

Kristal garam yang sudah dipanen, nantinya akan dijemur kembali sebelum dikemas untuk dipasarkan.

Sujitno mengatakan garam dari lokasi tersebut mulai dilirik untuk kebutuhan konsumsi, karena warnanya lebih putih dan bersih dibanding garam biasa.

Bahkan, kata dia, ada permintaan dari pengolah teri nasi di kawasan Dadap, Indramayu, karena kualitas garam dianggap mampu menjaga warna ikan tetap cerah.

Ia meyakini di tengah perubahan cuaca yang makin sulit ditebak dan biaya pertanian yang terus naik, garam memberi warga pesisir pilihan baru untuk mendulang rezeki.

Baca juga: Menteri Trenggono optimalkan potensi garam Indramayu sokong swasembada

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.