Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
MEMBACA dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU 2026 ini banyak yang hanya fokus pada sosok siapa, bukan tentang apa dan mengapa? Padahal, ibarat mengendarai mobil di jalan tol yang macet, NU di abad kedua ini tidak cukup dengan sopir yang piawai, dan navigator yang paham peta global, tetapi juga mesin yang baru dan sopir tahu arah dan tujuan.
Oleh karena itu, untuk "memperbaiki" performa mesin, dan sosok siapanya yang paham arah serta tujuan itu kita sudah punya stock istimewa. Kita punya "4 Kuda Pacu"—atau empat pendekar—yang kelebihannya saling melengkapi, ibarat puzzle yang berserakan dan mendesak untuk disatukan.
Ada Cak Imin (Muhaimin Iskandar), Gus Ipul (Saifullah Yusuf), Nusron Wahid, dan Prof Nasaruddin Umar. Mengapa mereka? Mengapa pula persatuan mereka menjadi harga mati? Sebab mereka adalah perpaduan unik dari loyalis strukturalis dari bawah hingga atas, pengalaman birokrasi profesional, dan kepemimpinan institusi yang solid.
Saya hampir berani memastikan, kalau mereka berempat ini egois, jalan sendiri-sendiri, mingkin NU akan begini-begini saja. Hanya besar pada jumlah, tapi kerdil pada program dan eksekusi. Tetapi, bayangkan jika empat energi ini bersatu dalam visi, misi, dan program. Lebih-lebih bersatu dan berbagi peran di struktural, insya Allah masa depan NU sangat cerah.
Cak Imin (Abdul Muhaimin Iskandar). Dengan basis massa struktural dan pengalaman di lembaga legislatif serta eksekutif (Menko Pemberdayaan Masyarakat), ia adalah arsitek penggerak akar rumput. Ia paham cara mengorkestrasi loyalis struktural.
Gus Ipul (Saifullah Yusuf). Sebagai Sekjen PBNU dan tokoh yang matang di eksekutif (Menteri Sosial/mantan Wagub), ia adalah jembatan struktural yang handal. Pengalamannya dalam manajemen organisasi memastikan agenda NU berjalan di lapangan.
Nusron Wahid. Sebagai Menteri ATR/Kepala BPN, ia membawa kemampuan teknokratis dan manajerial yang tajam. Ia adalah tipe eksekutor yang berani, krusial untuk modernisasi tata kelola organisasi.
Lalu, Prof Nasaruddin Umar. Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal dan Menteri Agama (Menag), ia adalah representasi intelektual, spiritual, dan jaringan global. Ia membawa ruh keilmuan yang mendalam, menjaga NU tetap memiliki otoritas moral dan teologis.
Jika struktur PBNU—Syuriyah dan Tanfidziyah—bisa didesain untuk mengakomodasi keempatnya, insya Allah itu akan sempurna. Tapi, kalaupun tidak --karena dinamika politik jam’iyah itu cair-- setidaknya mereka harus berbagi program dan misi strategis. Jangan lagi ada "matahari" kembar empat yang merusak, tapi bintang kembar yang menerangi.
Abad Kedua NU: Dari Tradisi ke Transformasi
Abad pertama NU adalah kebanggaan historis. Abad kedua? Kita harus "saintifik". Muktamar 35 harus memutuskan: Fokus SDM NU bukan lagi sekadar retorika jam'iyyah yang hanya fokus pada ritual-an. Kita butuh pendekatan ilmiah, profesional, dan manajerial. Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama mengusung visi transformatif yang ambisius, memproyeksikan diri bukan hanya sebagai benteng moral, tetapi juga akselerator kemajuan bangsa melalui penguasaan teknologi, ekonomi, politik kebangsaan dan geopolitik global.
Agenda besar tersebut mencakup mengupayakan Universitas NU berstandar Internasional, jaringan rumah sakit bergengsi di setiap kabupaten/kota, serta penciptaan SDM unggul yang profesional, sembari tetap menjaga akar pesantren yang adaptif terhadap tuntunan zaman. Lebih dari sekadar perbaikan struktural, visi ini menegaskan urgensi dakwah berbasis digital dan kedaulatan data sebagai pilar baru perjuangan NU dalam menjawab tantangan kedaulatan di era modern.
Melalui kedaulatan data yang terintegrasi ini, NU bukan hanya meningkatkan pelayanan administrasi, melainkan membangun fondasi untuk memiliki kekuatan politik kebangsaan yang berbasis data (data-driven) guna mengawal kepentingan warga, menegakkan kedaulatan digital, serta merawat kehidupan berbangsa dan bernegara secara mandiri.
Kedaulatan tersebut merujuk pada posisi NU sebagai organisasi sosial-keagamaan yang menggunakan data untuk kebijakan yang sejalan dengan nilai-nilai Aswaja (bukan politik praktis), dan memastikan negara berpihak pada keadilan, serta menggerakkan potensi ekonomi-politik warga nahdliyin demi martabat bangsa.
Keberhasilan proyeksi "peradaban" ini tentu diletakkan di atas pundak kader-kader terbaik yang memiliki kapasitas, integritas, dan visi strategis yang mumpuni. Dan, agenda besar tersebut sepertinya hanya mampu direalisasikan oleh empat sosok pilihan tersebut. Sebab masing-masing figur sudah menunjukkan "maqom" pemimpin yang visioner, solid, serta mampu menyatukan pemberdayaan ekonomi umat dengan profesionalisme organisasi.
Sekali lagi, Muktamar ke-35 nanti tidak harus terus-terusan membahas soal sosok siapa yang duduk di kursi Ketua Umum. Itu urusan "wadah". Yang lebih penting adalah "isi". Kalaupun mereka tidak berada dalam satu struktur resmi, mereka harus berada dalam satu "misi strategis". Satu nafas, satu visi.
Kita butuh perubahan nalar. Berhenti membanggakan "Kami ini organisasi terbesar". Itu nalar masa lalu. Nalar masa depan adalah: "Apa yang sudah NU buat untuk mental, SDM, pendidikan, ekonomi, politik dan kesehatan warganya?"
Maka empat tokoh ini— Cak Imin, Gus Ipul, Nusron, Prof Nazar—harus menjadi role model perubahan mentalitas ini. Kalau mereka bersatu, Muktamar 35 akan menjadi momentum sejarah yang sesungguhnya. Kalau tidak, sejarah akan mencatat kita sebagai generasi yang gagal memaksimalkan potensi.
Nahdlatul Ulama abad kedua adalah momentum bersatu, bersinergi, berubah, dan bangkit menyambut tantangan global dan kita punya empat kuda pacu atau pendekarnya. Wallahu'alam bissowab
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·