Mengenal Grup Hantavirus yang Ditularkan Lewat Tikus

Sedang Trending 1 jam yang lalu

KASUS kematian beruntun penumpang kapal pesiar MV Hondius karena virus hanta atau hantavirus kini tengah jadi sorotan. Virus ini biasanya dibawa oleh hewan pengerat dan yang paling sering adalah tikus.

Guru Besar Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dominicus Husada, menerangkan hantavirus merupakan nama grup yang isinya lebih dari 40 jenis virus yang 22 diantaranya dapat menularkan penyakit ke manusia. “Yang sekarang sedang top di kapal itu adalah virus jenis Andes, satu-satunya dari keluarga hanta yang menyebabkan penularan dari orang ke orang pada kontak erat,” katanya daring, Jumat 8 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut Dominicus, jenis tikus yang membawa virus hanta berbeda-beda, dengan jenis virusnya juga yang berbeda-beda. Mereka menular dengan cara yang sama, yakni melalui partikel virus yang ada di air kencing, kotoran, atau liur tikus. Bisa juga melalui kulit yang terluka tapi kasusnya tergolong jarang. "Potensi besar penularan dari tikus yang membawa virus hanta yaitu pada tempat tertutup."

Virus hanta termasuk dalam keluarga Hantaviridae dari ordo Bunyavirales. Beberapa yang teridentifikasi antara lain Sin Nombre virus di Amerika Utara yang dibawa deer mice. Kemudian Andes virus (ANDV) di Amerika Selatan yang berhubungan dengan long tailed pygmyricerat.

Ada pula Hantaan virus di Asia Timur seperti Cina dan Korea yang khas berhubungan dengan striped field mouse. Lalu Seoul virus di seluruh dulia yang terkait dengan brown rats. Sementara Puumala virus disebut nephropathia epidemica di Eropa. Sedangkan Dobrava-Belgrade virus di Eropa dan Asia   berkaitan dengan yellow-necked mice.

Dominicus mengatakan, virus hanta pada tikus menyebabkan infeksi jangka panjang. Namun begitu tidak ada gejalanya pada tikus.

Sebaliknya pada manusia. Infeksi dari tikus itu mengakibatkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) terutama di benua Amerika yang menyebabkan pasien mengalami gagal paru berat. Tingkat kematiannya bisa mencapai 50 persen di sana. Sementara dampak lainnya yaitu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang lebih banyak terjadi di Eropa dan Asia hingga menyebabkan gangguan ginjal dan pembuluh darah.

Menurut Dominicus, virus hanta jenis Andes banyak ditemukan kasus infeksinya di Argentina dan Cile. Pada kisaran 2018-2019 pernah ada tiga orang yang kontak dengan tikus kemudian menyebarkan ke 34 orang lain yang menyebabkan 11 orang meninggal di Argentina. 

Gejala sakitnya bisa muncul dalam kurun 1-8 minggu setelah kontak dengan sumber. Gejala awal mencakup demam, nyeri otot, kelelahan. Kemudian pasien akan segera kesulitan bernapas hingga mengalami gangguan paru-paru yang berat dan tekanan darah menjadi rendah.

“Tidak ada pengobatan khusus dan sering berakhir di ICU (Intensive Care Unit)  untuk mengatasi masalah paru dan ginjal,” katanya. Sejauh ini belum ada vaksin untuk mencegah hantavirus pada manusia.

Dokter anak Piprim B. Yanuarso menambahkan, masyarakat dan orang tua jangan panik karena kasus virus hanta ini. “Mungkin yang perlu diperhatikan ketika ada isu penyakit menular, orang tua kembali ke perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS,” ujarnya. Setiap penyakit menular kuncinya di PHBS seperti rajin cuci tangan, higienis dan sanitasi, serta makanan dan lingkungan bebas dari tikus yang keluyuran.