Menggapai Swasembada beras dari hamparan sawah Sumedang

Sedang Trending 44 menit yang lalu
Di antara hamparan sawah yang menguning setiap musim, Sumedang sedang menapaki perjalanan panjang menuju pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Sumedang (ANTARA) - Hamparan sawah di Kecamatan Sumedang Selatan mulai menguning di pagi hari, menandakan bahwa musim panen telah tiba.

Di bawah sinar matahari yang baru saja muncul dari balik perbukitan, para petani sibuk memanen padi yang telah mereka rawat selama berbulan-bulan. Bunyi mesin perontok bersahut-sahutan, seiring dengan tumpukan gabah yang perlahan memenuhi karung-karung di tepi sawah.

Bagi para petani, momen panen bukan sekadar penanda berakhirnya satu siklus kerja, melainkan awal dari harapan baru.

Namun, di balik keindahan hamparan padi yang menguning itu, tersimpan narasi besar tentang bagaimana Kabupaten Sumedang menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim dan ketidakpastian cuaca.

Kini, Sumedang menjadi salah satu daerah dengan surplus beras di Jawa Barat. Produksi padi yang melampaui kebutuhan konsumsi lokal menjadikan kabupaten ini sebagai salah satu penopang pasokan pangan tingkat regional.

Meski demikian, mempertahankan capaian tersebut bukanlah perkara mudah. Tantangan seperti ketersediaan air, infrastruktur irigasi, adopsi teknologi pertanian, hingga isu regenerasi petani harus terus dijawab agar swasembada beras dapat terjaga dari musim ke musim.

Baca juga: Prabowo di hadapan petani Sumedang: Kalian adalah patriot

Menjaga Surplus

Di balik setiap musim panen, terdapat kerja keras ribuan petani di berbagai wilayah Sumedang. Dari Buahdua hingga Ujungjaya, aktivitas bercocok tanam berlangsung hampir sepanjang tahun untuk memastikan pasokan pangan tetap tersedia.

Hasil nyata dari upaya tersebut terlihat pada capaian produksi padi tahun 2025 yang mencapai sekitar 294 ribu ton. Angka ini jauh melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat Sumedang yang hanya sekitar 103 ribu ton per tahun.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumedang, Tono Suhartono, menjelaskan bahwa selisih antara produksi dan kebutuhan tersebut menghasilkan surplus signifikan.

“Produksi kita sekitar 294 ribu ton, sementara kebutuhan hanya 103 ribu ton. Artinya, kita memiliki surplus cukup besar, lebih dari 190 ribu ton,” ujarnya.

Surplus ini menjadi modal penting bagi ketahanan pangan daerah. Tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, produksi beras Sumedang juga berkontribusi terhadap pasokan pangan di wilayah lain di Jawa Barat. Kontribusi terbesar datang dari kecamatan-kecamatan sentra produksi. Kecamatan Buahdua tercatat sebagai penghasil tertinggi dengan produksi sekitar 43,19 ribu ton, diikuti oleh Conggeang (32,18 ribu ton), Ujungjaya (30,25 ribu ton), Tanjungkerta (24,68 ribu ton), dan Sumedang Selatan (23,9 ribu ton).

Wilayah-wilayah ini menjadi tulang punggung produksi pangan Sumedang. Kombinasi hamparan sawah yang luas, dukungan irigasi yang memadai, serta pengalaman petani yang diwariskan lintas generasi menjadi faktor kunci stabilitas produksi.

Namun, angka surplus yang besar bukanlah tujuan akhir. Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dan dampak perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi, menjaga produktivitas pertanian adalah pekerjaan rumah yang harus dilakukan secara berkelanjutan.

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.