New Delhi (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan aliansi BRICS dapat menyumbang lebih dari 40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) global, bahkan lebih banyak daripada blok G7.
"Izinkan saya mengingatkan Anda bahwa BRICS dan negara-negara mitranya saat ini menyumbang lebih dari 40 persen PDB global, sementara G7 hampir tidak mencapai 30 persen PDB global. Oleh karena itu, reformasi sudah lama tertunda, reformasi yang coba dihalangi oleh kolega-kolega Barat kami dengan segala cara," kata Lavrov di sela-sela agenda pertemuan setingkat menlu negara anggota BRICS di New Delhi, India, Jumat.
Dia menjelaskan perkiraan menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan rata-rata negara-negara BRICS akan sekitar 3,7 persen, hampir mendekati 4 persen, dibandingkan dengan 2,6 persen untuk tingkat pertumbuhan global dalam periode mendatang.
Diplomat senior Rusia itu juga mengatakan telah memberi pengarahan kepada rekan-rekan Rusia di blok BRICS mengenai situasi di Ukraina. Lavrov menekankan bahwa BRICS telah melakukan penilaian mendasar tentang apa yang terjadi.
Pernyataan akhir tentang hasil pertemuan BRICS akan dilakukan India sebagai ketua kelompok saat ini, kata Lavrov.
Sebelumnya, Lavrov mengatakan negara-negara tidak kehilangan minat untuk bergabung dengan BRICS, meskipun ada tekanan dari Barat.
"Saya tidak melihat ada penurunan minat pada BRICS sebagai akibat dari tekanan dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, yang secara terbuka menyatakan BRICS hampir sebagai musuh utama kemajuan," kata Lavrov.
Sejumlah negara pun bahkan telah mengajukan permohonan untuk bergabung dengan BRICS.
"Saya tidak melihat ada penurunan minat untuk bergabung ke asosiasi kami, baik sebagai anggota maupun sebagai negara-negara mitra," ujar Lavrov.
Negara-negara BRICS, katanya, juga menentang setiap upaya untuk mempolitisasi agenda G20.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: BRICS, Malaysia: Multilateralisme tetap landasan tata kelola global
Baca juga: Menlu India dan Iran bahas Selat Hormuz di sela-sela pertemuan BRICS
Baca juga: Rusia: Banyak negara tetap berminat ikut BRICS meski ada tekanan Barat
Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·