Penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mengumumkan penghapusan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) pada Selasa (21/4/2026). Kebijakan ini merupakan tindak lanjut atas kategori konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) pada kedua emiten tersebut.
Keputusan tersebut berdampak langsung pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 0,59 persen ke level 7.549,41 pada sesi pertama perdagangan Selasa (21/4). Data perdagangan menunjukkan transaksi mencapai Rp9,81 triliun dengan 298 saham mengalami penurunan harga di tengah pengumuman restrukturisasi indeks global ini.
Langkah interim MSCI ini membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) serta penambahan saham baru ke MSCI Investable Market Indexes (IMI). Berdasarkan laporan CNBC Indonesia, penghapusan emiten HSC diproyeksikan memicu likuidasi dana pasif sekitar Rp25,5 triliun, yang diperkirakan akan menekan IHSG secara kumulatif sebesar 2,14 persen menuju area 7.340.
"MSCI tidak akan memasukkan data dari sumber dan keterbukaan baru tersebut dalam penilaian free float maupun perhitungan indeks hingga proses evaluasi selesai serta masukan dari pelaku pasar diterima dan dianalisis," ungkap MSCI.
Pernyataan yang disampaikan pada Senin (20/4) malam tersebut menegaskan bahwa MSCI masih meninjau efektivitas reformasi transparansi yang dilakukan otoritas pasar modal Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya telah mewajibkan keterbukaan bagi pemegang saham di atas 1 persen untuk meningkatkan kualitas data likuiditas.
Pada perdagangan sesi pertama, saham BREN terkoreksi 7,20 persen menjadi Rp6.125, sementara DSSA merosot 13,15 persen ke posisi Rp2.840. Kedua saham ini menjadi pemberat utama indeks sejak awal tahun dengan total kontribusi penurunan mencapai lebih dari 180 poin terhadap IHSG.
Meskipun memicu volatilitas jangka pendek, rebalancing portofolio ini diprediksi akan meredistribusi likuiditas secara proporsional kepada 15 konstituen MSCI lainnya. Sektor perbankan diperkirakan menjadi penerima utama aliran modal dari rotasi dana pasif tersebut yang memberikan potensi dorongan indeks sekitar 0,81 persen.
Evaluasi final terhadap aksesibilitas pasar modal Indonesia dijadwalkan akan dilakukan oleh MSCI pada Market Accessibility Review bulan Juni 2026 mendatang. Langkah ini akan menentukan apakah standar transparansi domestik telah memenuhi kriteria investor institusional global untuk menghindari risiko investabilitas.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·