Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan pergi beribadah haji secara ilegal tanpa visa resmi, serta menekankan pentingnya keikhlasan dan kepatuhan dalam menjalankan rukun Islam kelima tersebut.
“Haji itu harus sepenuhnya berangkat dari keikhlasan. Orang haji itu ada tiga model. Ada haji karena gaya-gayaan ria, itu tentu hajinya tidak mendapat apa-apa, kecuali gaya-gaya atau hanya sekedar wisata” ujar Cholil Nafis di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan terdapat beberapa motif orang berhaji, mulai dari sekadar pamer hingga tujuan religi. Namun, menurutnya, hanya ibadah haji yang dilakukan dengan niat tulus karena Allah yang memiliki nilai spiritual dan berpotensi meraih predikat haji mabrur.
Selain aspek niat, Kiai Cholil juga menegaskan pentingnya ketaatan terhadap aturan yang ditetapkan pemerintah, baik oleh Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Arab Saudi.
Baca juga: Wamenhaj: Jangan mudah tergiur tawaran haji tanpa antre
“Pemerintah Indonesia melarang orang berangkat haji tanpa visa resmi. Pemerintah Arab Saudi ketat sekali. Tahun lalu saya berangkat haji itu dijaga,” kata Kiai Cholil.
Ia mencontohkan pengalamannya saat menunaikan ibadah haji, akses ke Masjidil Haram dan pelaksanaan ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) dijaga dengan sistem perizinan yang ketat.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak memaksakan diri berangkat haji tanpa prosedur resmi.
“Jangan nekat. Ikuti ketentuannya agar pelaksanaan hajinya sah dan bisa mabrur,” ujarnya.
Kiai Cholil juga meminta pemerintah untuk memperketat pengawasan terhadap praktik keberangkatan haji ilegal. Ia menyoroti kejadian pada tahun sebelumnya karena terdapat warga negara Indonesia yang meninggal dunia saat mencoba menghindari petugas di Arab Saudi.
Baca juga: KJRI tegaskan Pemerintah Arab Saudi serius perangi praktik haji ilegal
Menurut dia, kepatuhan terhadap regulasi merupakan bagian dari ajaran Islam yang harus dijunjung tinggi oleh umat Muslim dalam menjalankan ibadah, termasuk haji.
“Peristiwa itu tidak hanya membahayakan keselamatan, tetapi juga mencoreng nama baik bangsa Indonesia karena tidak mematuhi aturan,” katanya.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai tawaran haji tanpa antrean yang marak beredar, terutama melalui media sosial.
“Jangan mudah terpengaruh dengan iklan-iklan yang mengajak naik haji tanpa antre. Karena sejatinya tidak ada skema naik haji tanpa antre,” ujar Wamenhaj Dahnil.
Wamenhaj Dahnil menegaskan seluruh proses keberangkatan haji resmi harus melalui mekanisme antrean. Oleh karena itu setiap tawaran yang menjanjikan keberangkatan tanpa antre dipastikan tidak menggunakan visa haji resmi.
Baca juga: Polri selidiki kasus haji ilegal bermodus visa tenaga kerja
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·