Jakarta (ANTARA) - Selama bertahun-tahun, manusia percaya bahwa kemampuan berpikir adalah batas yang tidak bisa dilewati mesin. Namun, hari ini, AI mulai mampu membaca pola, menyusun bahasa, hingga membantu mengambil keputusan dalam kecepatan yang sulit ditandingi manusia.
Dari situlah muncul kekhawatiran, ketika mesin mulai memahami cara manusia berpikir. Apakah manusia sudah cukup siap memahami arah perubahan yang sedang diciptakannya sendiri?
Kemudian, apakah kecerdasan buatan akan menjadi alat pembebas atau justru memperlebar ketimpangan baru?
Pertanyaan itu, kini tidak lagi terdengar seperti wacana futuristik, melainkan sudah menjadi bagian dari percakapan geopolitik dunia. Negara-negara besar tidak lagi hanya berlomba menguasai sumber daya alam atau jalur perdagangan, tetapi juga berlomba menguasai infrastruktur digital yang menjadi tulang punggung kecerdasan buatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan bagaimana teknologi AI berkembang jauh melampaui fungsi awalnya sebagai alat bantu produktivitas.
AI, kini mulai menentukan cara informasi diproduksi, disebarkan, dan dikendalikan. Dalam situasi seperti itu, penguasaan atas cip semikonduktor, pusat data, komputasi awan, hingga model bahasa besar, perlahan berubah menjadi simbol kekuatan baru.
Apa yang dahulu terjadi pada minyak bumi di abad ke-20, kini mulai terjadi pada data dan komputasi di abad ke-21.
Pandangan inilah yang menjadi salah satu sorotan penting dalam konferensi nasional The Cornerstone melalui diskusi bertajuk “AI. Power. Global Order" di Jakarta, belum lama ini.
Mantan Menteri Perdagangan RI Tom Lembong menyoroti dunia saat ini sedang bergerak menuju konfigurasi kekuatan baru yang menjadikan teknologi sebagai instrumen diplomasi, sekaligus arena persaingan ekonomi.
Negara yang mampu menguasai infrastruktur AI berpotensi memiliki pengaruh besar dalam menentukan arus informasi global.
Perebutan pengaruh
Tom Lembong memperlihatkan persoalan AI tidak sesederhana kemampuan membuat gambar digital atau menulis otomatis. Di balik semua kemudahan itu terdapat perebutan pengaruh ekonomi, industri, dan bahkan kedaulatan informasi.
Ketika satu negara memiliki kapasitas pusat data besar, kemampuan produksi semikonduktor tinggi, serta ekosistem digital yang matang, negara tersebut tidak hanya memperoleh keuntungan ekonomi, tetapi juga memiliki posisi tawar strategis dalam hubungan internasional.
Karena itu, peringatan tentang pentingnya konsistensi kebijakan jangka panjang menjadi sangat relevan. Dalam diskusi tersebut, Tom mencontohkan bagaimana negara-negara tetangga telah membangun fondasi industri digital mereka selama puluhan tahun secara konsisten.
Malaysia, misalnya, disebut telah mengoperasikan sebagian besar kapasitas pusat data di Asia Tenggara, sementara Thailand memegang dominasi produksi hard drive dunia. Fakta ini memperlihatkan bahwa keberhasilan industri teknologi bukanlah hasil kebijakan sesaat, melainkan akumulasi dari arah pembangunan yang stabil dan berkelanjutan.
Indonesia sendiri berada pada posisi yang unik, sekaligus rentan. Sebagai negara dengan jumlah penduduk besar dan pengguna internet yang terus meningkat, Indonesia memiliki pasar digital yang sangat menjanjikan.
Namun, besarnya pasar juga bisa menjadi jebakan apabila tidak diimbangi kemampuan membangun industri teknologi nasional. Dalam situasi seperti itu, Indonesia berisiko hanya menjadi konsumen dari produk-produk teknologi global, tanpa memiliki kendali atas arah perkembangannya.
Kegelisahan mengenai posisi Indonesia di tengah rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok juga menjadi bagian menarik dalam diskusi tersebut.
Moderator diskusi, Mercy Wijaya menyoroti pertanyaan penting tentang apakah Indonesia memiliki peluang menjadi pemain utama menuju Visi Indonesia Emas 2045 atau justru hanya akan menjadi pasar besar bagi kepentingan negara lain. Pemikiran itu sesungguhnya mewakili kegelisahan generasi muda yang hidup di tengah gelombang perubahan teknologi sangat cepat.
Namun, di balik kekhawatiran tersebut, ada sudut pandang lain yang menarik untuk dicermati. Tom Lembong menilai persaingan AI pada akhirnya akan bergerak menuju fase komoditas.
Model bahasa dan berbagai layanan AI lambat laun akan menjadi semakin seragam, sehingga keunggulan kompetitif tidak lagi hanya ditentukan oleh teknologi itu sendiri. Dalam kondisi seperti itu, negara yang mampu membaca gelombang berikutnya justru memiliki peluang untuk melompat lebih jauh.
Pandangan tersebut penting karena sering kali masyarakat terlalu fokus pada teknologi yang sedang populer hari ini, tanpa mempersiapkan kemampuan untuk menghadapi perubahan berikutnya.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa dominasi teknologi selalu bergerak cepat. Apa yang dianggap revolusioner saat ini bisa menjadi biasa dalam waktu singkat. Karena itu, kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan memiliki identitas yang kuat justru menjadi modal yang jauh lebih penting dibanding sekadar kemampuan menggunakan aplikasi AI.
Keputusan moral
Pesan Tom kepada generasi muda tentang pentingnya mengenali diri sendiri terasa sangat sesuai di tengah era banjir informasi. AI memang mampu membantu manusia mengurangi keterbatasan, tetapi teknologi tidak bisa menggantikan karakter, empati, maupun kemampuan mengambil keputusan moral.
Dalam situasi ketika semua orang bisa mengakses jawaban instan, kemampuan membedakan mana informasi yang bernilai dan mana yang menyesatkan justru menjadi tantangan terbesar.
Maka kemudian pendidikan memainkan peran yang jauh lebih luas dibanding sekadar mengejar nilai akademik. Pendidikan tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan yang pandai menghafal atau cepat menyelesaikan soal.
Dunia membutuhkan generasi yang mampu membaca perubahan global, memahami dampak sosial teknologi, dan memiliki keberanian untuk terlibat dalam percakapan publik. Kesadaran inilah yang tampaknya coba dibangun melalui lahirnya forum seperti The Cornerstone yang digagas oleh EduALL.
Menariknya, pendekatan yang dibangun bukan sekadar mempertemukan anak muda dengan pembicara ternama, tetapi juga membuka ruang dialog yang lebih setara.
CEO EduALL, Devi Kasih, mengungkapkan energi anak muda dalam forum tersebut begitu besar karena mereka tidak hanya datang untuk mendengarkan, tetapi juga berani menyampaikan pandangan kritis kepada para profesional.
Situasi seperti ini penting karena banyak keputusan strategis masa depan justru sering dibicarakan tanpa melibatkan generasi yang nantinya akan paling terdampak.
Lebih jauh lagi, ada pesan sosial yang menarik dari konferensi tersebut. Seluruh dana hasil penjualan tiket dan donasi disalurkan melalui kolaborasi dengan Indonesia Mengajar untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak di berbagai pelosok Nusantara.
Langkah ini mengingatkan pembicaraan tentang AI dan masa depan teknologi seharusnya tidak berhenti pada elite perkotaan atau kelompok yang sudah memiliki akses pendidikan tinggi. Masa depan digital Indonesia juga ditentukan oleh sejauh mana anak-anak di daerah terpencil memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang.
Percakapan tentang AI bukan hanya soal mesin yang semakin pintar. Tapi adalah percakapan tentang arah masa depan bangsa, tentang siapa yang mengendalikan pengetahuan, dan tentang apakah manusia tetap menjadi subjek utama di tengah derasnya otomatisasi.
Indonesia masih memiliki peluang untuk menjadi pemain penting dalam perubahan global ini, tetapi peluang itu hanya akan terbuka apabila pembangunan teknologi berjalan beriringan dengan pembangunan karakter, pendidikan kritis, dan keberanian berpikir jangka panjang.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·