Negara-negara anggota blok ekonomi BRICS secara masif meningkatkan cadangan emas hingga melampaui 6.000 ton pada 20 April 2026 sebagai langkah strategis de-dollarisasi dan perlindungan aset dari sanksi internasional.
Langkah ini diambil menyusul pembekuan cadangan devisa Rusia sebesar US$300 miliar oleh negara-negara Barat pada 2022 yang memicu kekhawatiran terhadap keamanan aset berbasis dolar AS. Dilansir dari GoldSilver.com, harga emas diperdagangkan mendekati level US$4.850 per troy ons pada April 2026, melonjak lebih dari 40 persen dalam setahun terakhir.
Data World Gold Council menunjukkan bahwa bank sentral negara-negara BRICS+ menyumbang lebih dari 50 persen dari total pembelian emas global antara tahun 2020 hingga 2024. Saat ini, Rusia memimpin dengan 2.336 ton, disusul Tiongkok sebesar 2.298 ton, dan India memegang 880 ton emas.
Di tengah dinamika tersebut, delegasi Indonesia yang dipimpin Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo turut menghadiri pertemuan deputi BRICS di India pada 14-15 April 2026. Dalam forum tersebut, Indonesia menekankan pentingnya stabilitas neraca finansial untuk menghadapi risiko ketidakseimbangan ekonomi global.
"Ketidakseimbangan global di sektor keuangan saat ini jauh lebih berisiko terhadap stabilitas perekonomian global, sehingga perhatian terhadap neraca finansial (financial account) menjadi krusial," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Perry mengusulkan tiga pilar kebijakan utama untuk merespons tantangan ekonomi saat ini, yang meliputi stabilitas makroekonomi, reformasi struktural, dan kebijakan perdagangan terbuka. Selain forum multilateral, Gubernur BI juga mengadakan pertemuan bilateral dengan Gubernur Federal Reserve Bank, Michael S. Barr, guna mendiskusikan ketahanan energi dan digitalisasi sistem pembayaran.
Blok BRICS kini mewakili sekitar 40 persen PDB global dengan bergabungnya anggota baru seperti Indonesia, Mesir, Ethiopia, Iran, dan UEA. Meskipun dolar AS masih mendominasi, pangsa pasar mata uang tersebut dalam cadangan global telah menyusut dari 71 persen pada 1999 menjadi sekitar 57 persen saat ini menurut data IMF COFER.
| Rusia | 2.336 |
| Tiongkok | 2.298 |
| India | 880 |
| Brasil | 145,1 |
Para peneliti di International Institute for Advanced Systems Research (IRIAS) juga telah meluncurkan proyek percontohan instrumen perdagangan digital bertajuk "Unit". Instrumen ini didukung oleh 40 persen emas dan 60 persen mata uang BRICS sebagai upaya membangun arsitektur keuangan pasca-dolar.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·