Pasar Uang Indonesia Masih Sangat Dangkal

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Cucun Ahmad Syamsurijal

Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com

Jakarta - Ada satu masalah klasik yang sering luput dan terlupakan dalam diskursus arsitektur kebijakan moneter Indonesia. Pasar uang kita masih sangat dangkal.

Instrumen investasi dalam sistem keuangan Indonesia masih terbatas, kedalaman likuiditas belum memadai, dan variasi produk keuangan belum mampu menyerap dinamika arus modal global secara optimal. Dalam kondisi seperti ini, setiap guncangan kecil dari luar dapat menjalar cepat ke dalam negeri, menggerakkan nilai tukar, suku bunga, hingga ekspektasi pelaku ekonomi dalam waktu bersamaan.

Kedangkalan pasar ini menjadi semakin krusial ketika dikaitkan dengan kapasitas pertahanan eksternal Indonesia, khususnya cadangan devisa. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan, posisi Indonesia relatif tidak dominan dan tertinggal.

China memiliki cadangan devisa yang sangat besar (lebih dari US$3 triliun) sehingga memberikan ruang manuver luas dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Thailand juga memiliki buffer yang cukup solid dimana cadangan devisanya lebih dari US$280 miliar. Bahkan Vietnam dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan kapasitas cadangan yang signifikan.

Dalam lanskap ini, Indonesia tidak berada pada posisi yang memungkinkan untuk mengandalkan pendekatan konservatif semata dalam komunikasi moneter.

Artinya, Bank Indonesia tidak bisa lagi berbicara kepada pasar dengan nada satu arah, seolah-olah regulator yang memberi instruksi kepada objek yang diatur. Pendekatan seperti ini mungkin relevan dalam pasar yang dalam, likuid, dan memiliki banyak pemain. Namun dalam konteks Indonesia, pendekatan tersebut justru berisiko menciptakan jarak psikologis antara otoritas moneter dan pelaku pasar.

Yang dibutuhkan di dalam sistem keuangan dan moneter saat ini adalah reposisi hubungan kelembagaan dari relasi 'pengatur dan yang diatur' menjadi relasi mitra yang 'bersahabat'. Mengapa pendekatan ini relevan bahkan mendesak?

Karena struktur pasar valas global maupun domestik sesungguhnya sangat terkonsentrasi. Di pasar offshore, arah nilai tukar tidak ditentukan oleh ribuan pelaku yang tersebar, tetapi oleh segelintir institusi besar. Nama-nama seperti JPMorgan Chase (pangsa pasar 11,41%), UBS (10,02%), Deutsche Bank (8,49%), dan XTX Markets (6,69%) memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk ekspektasi dan arah pergerakan mata uang.

Di pasar onshore dalam negeri, struktur ini bahkan lebih terkonsentrasi. Transaksi valas domestik didominasi oleh beberapa bank besar seperti Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, dan Bank Negara Indonesia (BNI). Jumlah pemain yang terbatas ini seharusnya menjadi peluang strategis bagi Bank Indonesia untuk membangun komunikasi yang lebih intens, personal, dan berbasis kepercayaan.

Namun, disinilah tantangan utama muncul, kredibilitas. Dalam beberapa waktu terakhir, indikator risiko menunjukkan peningkatan ketidakpastian yang tidak bisa diabaikan.

Credit Default Swap (CDS) Indonesia mengalami kenaikan bukan hanya sejak eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan terkait Iran, tetapi sudah mulai meningkat sejak pertengahan tahun 2025. Kenaikan CDS adalah sinyal yang sangat jelas bahwa pasar melihat adanya peningkatan risiko, baik yang bersumber dari faktor global maupun persepsi terhadap kondisi domestik.

Masalahnya, pasar tidak menyimpan persepsi ini sendirian. Persepsi tersebut diterjemahkan menjadi ekspektasi, dan ekspektasi kemudian diwujudkan dalam keputusan investasi. Ketika ketidakpastian meningkat, pelaku pasar cenderung melakukan penyesuaian portofolio yang dalam banyak kasus berarti capital outflow. Arus keluar modal ini pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah, menciptakan tekanan tambahan bagi stabilitas makroekonomi.

Dalam situasi seperti ini, instrumen moneter konvensional saja tidak cukup. Intervensi pasar, pengelolaan likuiditas, atau penyesuaian suku bunga memang penting, tetapi ada satu instrumen yang sering kali lebih menentukan, yaitu komunikasi.

Komunikasi moneter bukan sekadar penyampaian informasi kebijakan. Ia adalah alat untuk membentuk ekspektasi dan dalam pasar yang dangkal serta terkonsentrasi, ekspektasi bisa berubah sangat cepat baik ke arah stabilitas maupun sebaliknya.

Oleh karena itu, pendekatan komunikasi yang kaku, formal, dan berjarak harus ditinggalkan. Bank Indonesia perlu membangun komunikasi yang bersifat dialogis, bukan monolog. Pendekatan yang bersahabat berarti memahami bagaimana pasar berpikir, apa yang mereka khawatirkan, dan bagaimana mereka membaca sinyal kebijakan.

Bersahabat dengan pasar bukan berarti mengorbankan dan menghilangkan independensi, serta tunduk pada pasar. Ini bukan soal menyerahkan kedaulatan kebijakan kepada pelaku keuangan. Sebaliknya, ini adalah strategi untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil dipahami dengan benar, dipercaya, dan direspons secara konstruktif oleh pasar.

Dalam praktiknya, pendekatan ini dapat diwujudkan melalui beberapa hal. Pertama, transparansi yang lebih tajam. Bukan sekadar komunikasi satu arah, tetapi bicara dengan hati disertai dengan pesan yang jelas dan konsisten.

Kedua, engagement yang lebih intens dengan pelaku utama pasar, baik offshore maupun onshore. Ketiga, kemampuan untuk mengelola narasi bahwa kebijakan yang diambil bukan reaktif, tetapi bagian dari kerangka strategis yang kredibel.

Di sinilah seni kebijakan moneter diuji. Ketika ruang fiskal terbatas, pasar keuangan dangkal, dan tekanan eksternal meningkat, maka kepercayaan menjadi mata uang yang paling berharga. Dan kepercayaan tidak dibangun hanya dengan angka tetapi dengan komunikasi yang tepat dan efektif.

Indonesia tidak memiliki kemewahan untuk bersikap kaku. Dengan cadangan devisa yang relatif terbatas dan struktur pasar yang terkonsentrasi, pendekatan konservatif yang mengandalkan 'jarak kelembagaan' justru bisa menjadi sumber instabilitas baru.

Sudah saatnya Bank Indonesia mengubah cara berinteraksi dengan pasar. Bukan lagi sebagai regulator yang berdiri di atas menara gading, tetapi sebagai mitra strategis yang hadir di tengah dinamika pasar.

Karena pada akhirnya, stabilitas bukan hanya soal kebijakan yang benar tetapi juga tentang bagaimana kebijakan itu dipahami dan dipercaya. Dan kepercayaan, seperti halnya pasar, hanya tumbuh dalam hubungan yang bersahabat.