CIMB Niaga Raup Laba Sebelum Pajak Rp2,3 Triliun Kuartal I&2026

Sedang Trending 56 menit yang lalu

PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatatkan laba sebelum pajak konsolidasi sebesar Rp2,3 triliun pada kuartal pertama 2026 di tengah kondisi fundamental bisnis yang stabil. Pencapaian ini didukung oleh pertumbuhan pendapatan yang terjaga serta rasio dana murah atau CASA yang mencapai level 73,9 persen per 31 Maret 2026.

Kinerja keuangan yang dilansir dari Bloombergtechnoz ini juga menunjukkan perolehan laba bersih per saham atau earnings per share (EPS) sebesar Rp70,20. Perusahaan melaporkan total aset konsolidasian telah menyentuh angka Rp368,2 triliun pada akhir Maret, yang menegaskan posisi perseroan sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia.

Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun perusahaan mengalami kenaikan 2,3 persen secara tahunan menjadi Rp260,1 triliun, didorong oleh pertumbuhan tabungan dan giro sebesar 12,2 persen. Sementara itu, penyaluran kredit tumbuh 2,2 persen menjadi Rp235,1 triliun dengan kontribusi utama dari segmen perbankan korporasi.

“Kami bersyukur dapat memulai tahun 2026 dengan fondasi yang kuat, didorong oleh kinerja pendapatan yang baik, pertumbuhan fee-based income yang solid, dan fundamental bisnis yang sehat. Pertumbuhan pendapatan tetap terjaga stabil, didukung oleh strategi serta dedikasi seluruh karyawan kami dalam memberikan layanan optimal kepada seluruh nasabah dan stakeholders. Adapun perolehan positif ini didorong oleh pengelolaan biaya yang disiplin, serta pertumbuhan kredit yang selektif dengan dukungan pendanaan current account savings account (“CASA”) yang kuat dan mencapai rasio CASA tertinggi sebesar 73,9%, sehingga memperkuat kemampuan kami dalam menjaga margin. Kualitas aset tetap terjaga, dengan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/“NPL”) di bawah rata-rata industri, dan biaya kredit (cost of credit/“CoC”) yang tetap terjaga di bawah 1%. Selain itu, bisnis wealth management kami dalam melayani nasabah Preferred dan Private Wealth juga terus menunjukkan kinerja yang baik, tercermin dari rata-rata assets under management per nasabah yang terus meningkat, sekaligus memperkuat basis pendapatan kami yang semakin terdiversifikasi,” ungkap Lani Darmawan, Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga.

Lani menjelaskan bahwa perusahaan akan terus mengoptimalkan pendapatan non-bunga dan menjaga ketahanan portofolio kredit melalui manajemen risiko yang ketat. Fokus ke depan akan diarahkan pada penguatan modal untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang sesuai dengan peta jalan strategis perusahaan.

“Ke depan, dengan kinerja imbal hasil yang tetap terjaga dan permodalan yang kuat untuk mendukung pertumbuhan di masa mendatang, kami akan terus memprioritaskan pertumbuhan fee-based income untuk memperkuat pendapatan inti, sekaligus menjaga margin yang baik melalui penguatan basis CASA dan pendanaan yang disiplin. Pertumbuhan kredit akan dilakukan secara pruden, dengan tetap menempatkan kualitas aset dan ketahanan portofolio sebagai fokus utama. Seluruh langkah ini selaras dengan strategi Forward30 serta purpose kami, yaitu Advancing Customers and Society, untuk terus mendukung nasabah dan masyarakat Indonesia dalam mewujudkan mimpi dan aspirasi mereka. Hasil yang baik pada kuartal ini semakin memperkuat keyakinan kami untuk mempercepat berbagai inisiatif strategis, menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan, serta berkontribusi nyata terhadap ketahanan ekonomi Indonesia,” tambah Lani Darmawan.

Unit Usaha Syariah (UUS) CIMB Niaga juga mempertahankan kepemimpinan pasar dengan total pembiayaan Rp52,9 triliun dan DPK Rp45,0 triliun. Selain itu, porsi pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp60,2 triliun, di mana 43 persen di antaranya dialokasikan untuk sektor UMKM sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan dan sosial.

“Perkembangan kami dalam pembiayaan berkelanjutan, dekarbonisasi, dan berbagai inisiatif sosial menunjukkan tekad CIMB Niaga untuk tumbuh secara bertanggung jawab sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Kami akan terus konsisten mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis, agar pertumbuhan yang kami capai dapat mendukung pembangunan yang inklusif dan memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang Indonesia,” tegas Lani Darmawan.

Dalam ranah teknologi, sebanyak 90,6 persen transaksi nasabah kini dilakukan melalui layanan perbankan tanpa cabang, termasuk aplikasi OCTO. Perusahaan juga baru saja meluncurkan platform OCTOBIZ untuk nasabah bisnis yang telah digunakan oleh lebih dari 20.000 perusahaan sejak peluncuran terbatas pada Februari 2026.

“Digitalisasi pengelolaan keuangan bisnis adalah langkah penting bagi pelaku bisnis untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendorong pertumbuhan berkelanjutan. Dengan tagline Pintar Atur Bisnis Pakai OCTOBIZ, kami menghadirkan platform ini sebagai mitra terpercaya dan solusi komprehensif bagi nasabah bisnis untuk mengelola seluruh kebutuhan perbankan mereka secara lebih cerdas dan produktif. OCTOBIZ dapat diandalkan sebagai solusi perbankan yang memberdayakan para pelaku bisnis untuk memperluas bisnis sekaligus mewujudkan mimpi dan aspirasinya,” kata Lani Darmawan.