Pasukan Amerika Serikat menyita kapal supertanker Majestic X yang mengangkut minyak Iran di Samudra Hindia pada Kamis, 23 April 2026, sebagai bagian dari peningkatan blokade maritim terhadap Republik Islam tersebut. Dilansir dari Bloombergtechnoz, manuver ini dilakukan untuk memutus pasokan minyak mentah ke pelanggan global.
Pentagon memberikan konfirmasi bahwa operasi yang terjadi pada malam hari tersebut menyasar kapal Majestic X yang sedang dikenai sanksi. Kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) yang juga dikenal sebagai Phonix ini memiliki kapasitas angkut mencapai 2 juta barel minyak dan terdeteksi berlayar menggunakan bendera palsu.
Pemerintah Amerika Serikat kini memperluas jangkauan operasionalnya dengan menghadang kapal pengangkut ribuan mil dari perairan Iran. Langkah ini berdampak langsung pada pasokan jutaan barel minyak bagi pelanggan Teheran, dengan Tiongkok sebagai pembeli terbesar sejauh ini.
"Overnight, U.S. forces carried out a maritime interdiction and right-of-visit boarding of the sanctioned stateless vessel M/T Majestic X transporting oil from Iran, in the Indian Ocean within the INDOPACOM area of responsibility. We will continue global maritime enforcement to…" tulis Departemen Perang melalui akun resmi X.
Di sisi lain, Iran merespons dengan menutup akses pelayaran melalui Selat Hormuz yang merupakan jalur krusial distribusi energi dunia. Tindakan ini menghambat pengiriman ratusan juta barel minyak dan bahan bakar yang berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi global secara signifikan.
Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan bahwa situasi di kawasan meningkat setelah Iran menyerang setidaknya tiga kapal pada hari Rabu dan mengalihkan dua di antaranya ke perairan mereka. Penangkapan Majestic X menyusul penyitaan kapal VLCC Hedy dan Hero II yang sebelumnya telah diamankan.
"U.S. forces have directed 29 vessels to turn around or return to port as part of the U.S. blockade against Iran. Over past 24 hours, media reports have alleged that several commercial ships evaded the blockade, citing M/V Hero II, M/V Hedy, and M/V Dorena as examples. These…" jelas Komando Pusat AS dalam unggahan lanjutannya.
Penyitaan ini menyebabkan aliran minyak yang mencapai pasar global melalui Selat Hormuz berada pada level yang sangat rendah. Selain Hedy dan Hero II yang kini berlabuh di Chabahar, kapal tanker Dorena juga berada dalam pengawalan perusak Angkatan Laut AS setelah mencoba melanggar blokade.
CEO Vitol Group, Russell Hardy, menyoroti dampak serius dari krisis ini terhadap ketersediaan stok minyak dunia di tengah kondisi konflik yang sedang berlangsung.
"Pasar minyak sudah menghadapi kehilangan pasokan yang pasti sebesar sekitar 1 miliar barel—sebagian karena waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan aliran pasokan setelah selat dibuka kembali," kata Russell Hardy, CEO perusahaan perdagangan minyak terkemuka Vitol Group.
Berdasarkan data dari Tankertrackers.com, setidaknya terdapat enam kapal tanker yang telah dicegat oleh pasukan Amerika Serikat melalui berbagai metode pemantauan citra satelit hingga Rabu lalu.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·