Pedagang Sapi di Jakarta Raih Berkah Penjualan Hewan Kurban

Sedang Trending 44 menit yang lalu

Sejumlah pedagang hewan kurban di wilayah Jakarta Selatan meraup berkah musiman akibat tingginya antusiasme masyarakat untuk beribadah kurban menjelang Hari Raya Idul Adha. Fenomena ini memicu lonjakan penjualan yang signifikan bagi para peternak lokal maupun luar daerah, seperti yang dilansir dari Detikcom pada Sabtu (23/5/2024).

Tingginya permintaan pasar di ibu kota membuat persediaan ternak yang dibawa dari berbagai daerah hampir habis terjual. Salah satu pedagang asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), berhasil menjual puluhan ekor sapi yang didatangkan langsung dari daerah asalnya ke lapak dagangannya di kawasan Jalan Gatot Subroto.

"Kalau untuk pemasaran, paling bagus tahun ini kalau kata saya. Dari total 65 ekor yang saya bawa dari Bima, sekarang sudah masuk di angka 85 ekor karena saya ambil lagi dari teman dan saudara. Sampai hari ini, sisa dua ekor saja," kata M. Said, Pedagang asal Bima.

Said, yang sudah berpengalaman selama 15 tahun berbisnis di wilayah Jabodetabek, menetapkan harga jual yang bervariasi mulai dari Rp 14 juta untuk bobot 210 kilogram hingga Rp 80 juta untuk sapi kelas berat di atas 800 kilogram. Banyaknya kuantitas kurban per wilayah rukun tetangga (RT) menjadi alasan utama dirinya konsisten mengirim pasokan ke Jakarta.

"Jakarta ini luar biasa, orang yang berkurban benar-benar banyak. Satu RT saja bisa 5 sampai 6 ekor sapi. Itulah kenapa saya tetap memilih Jakarta meskipun perjalanannya jauh," tutur M. Said, Pedagang asal Bima.

Proses mobilisasi ternak dari NTB menuju Jakarta membutuhkan waktu perjalanan sekitar 5 hingga 7 hari menggunakan truk tronton. Rute pengiriman darat dan laut tersebut melewati wilayah Sumbawa, Mataram, hingga Banyuwangi sebelum tiba di tempat tujuan.

"Kendala paling di penyeberangan kapal saja, kalau kapalnya sedikit ya agak lambat. Tapi alhamdulillah semua lancar. Sapi-sapi ini juga seolah punya insting, mereka tahu mau dikurbankan, jadi perawatannya tidak terlalu sulit asal kita tenang," cerita M. Said, Pedagang asal Bima.

Kondisi pasar yang stabil juga dirasakan oleh pelaku usaha peternakan lain di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Meskipun terdapat penyesuaian harga beli dari tingkat petani di daerah, minat beli konsumen di Jakarta dinilai tidak mengalami penurunan.

"Penjualan saat ini dianggap normal ya, walaupun harga beliannya naik. Istilahnya ada kenaikan yang lumayan dari pasar atau petani di kampung, tapi minat berkurban tetap besar," kata Madun, Pedagang hewan kurban.

Madun menyediakan stok dagangan berupa 50 ekor sapi dengan rentang harga Rp 22 juta hingga Rp 100 juta, serta 65 ekor kambing. Sebagian besar pasokan sapi miliknya kini sudah dipesan oleh pembeli dan hanya tinggal menunggu waktu pengosongan lapak.

"Alhamdulillah untuk sapi 99 persen sudah lumayan (terjual), tinggal nunggu diambil. Kambing memang masih sekitar 50 persen, tapi kami optimis tetap laku semua karena banyak yang beli mepet di hari H," tutur Madun, Pedagang hewan kurban.

Faktor niat ibadah dinilai menjadi motor penggerak utama stabilnya daya beli masyarakat pada momentum keagamaan ini. Situasi perdagangan saat ini bahkan disamakan dengan kondisi saat pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu yang tetap mampu bertahan.

"Mungkin karena orang niat ibadah ya, jadi berkah. Penurunan mungkin ada sedikit dibandingkan tahun lalu, tapi tidak signifikan, tidak sampai 50 persen," ucapnya Madun, Pedagang hewan kurban.