Bengkulu (ANTARA) - Masih segar dalam ingatan, pada akhir Maret 2025 alur Pelabuhan Pulau Baai benar-benar tertutup tumpukan pasir sedimentasi yang diseret gelombang Samudera Hindia ke dalam jalur pelayaran.
Pendangkalan alur sebenarnya bukan persoalan baru di pelabuhan tersebut. Masalah itu telah terjadi sejak belasan tahun lalu. Namun, situasi mencapai puncaknya pada akhir Maret 2025 ketika cuaca buruk memperparah kondisi. Tumpukan pasir yang menggunung di sebagian alur longsor dan akhirnya menutup seluruh jalur pelayanan pelabuhan.
Tersumbatnya alur pelabuhan menjadi bukti bahwa pelabuhan merupakan “urat nadi” perekonomian Bengkulu. Kapal pengangkut barang kebutuhan pokok tidak dapat masuk ke dermaga, sehingga pasokan sejumlah komoditas penting di Bengkulu mulai menipis.
Akses transportasi dari dan menuju pulau-pulau terluar pun terisolasi karena kapal perintis tidak bisa bersandar. Distribusi energi di provinsi berjuluk Bumi Merah Putih itu juga tersendat setelah kapal tanker milik Pertamina tidak dapat masuk ke dermaga untuk membongkar muatan bahan bakar minyak (BBM).
Pertamina pun harus berjibaku mendistribusikan BBM melalui jalur darat, melewati jalan berliku di Bukit Barisan sebagai alternatif pasokan energi ke Bengkulu. Namun, distribusi lewat jalur darat tentu tidak murah karena membutuhkan biaya besar demi menjaga kecukupan energi masyarakat.
Di sisi lain, aktivitas ekspor Bengkulu ikut terganggu. Penutupan alur pelabuhan membuat kapal pengangkut komoditas ekspor tidak dapat bersandar maupun berlayar dari dan menuju Pelabuhan Pulau Baai.
Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Bengkulu pada April 2025 hanya mencapai sekitar 3,9 juta dolar AS, merosot 74,5 persen dibandingkan Maret 2025.
Kondisi tersebut memaksa Pelindo selaku operator pelabuhan bekerja keras menormalisasi alur agar konektivitas laut dari dan menuju Bengkulu kembali pulih, bahkan lebih baik dari sebelumnya.
Upaya pengerukan pun tidak bisa dilakukan secara biasa. Volume sedimentasi pasir yang harus dikeluarkan sangat besar, ditambah tingginya debit pasir yang terus masuk ke alur setiap hari. Total pasir yang harus dikeruk mencapai 1,112 juta meter kubik di sepanjang 2,3 kilometer alur pelayaran.
Melihat kondisi itu, Presiden Prabowo Subianto pada April 2025 mengeluarkan instruksi untuk memastikan konektivitas Bengkulu melalui jalur pelabuhan kembali pulih. Pengerukan kemudian dilakukan menggunakan kapal keruk berkapasitas besar CSD Costa Fortuna 3 dan kapal AHT Costa Fortuna 5.
Kini, setelah setahun berlalu, , upaya membuka kembali konektivitas laut Bengkulu mulai membuahkan hasil. Pelindo memastikan kedalaman alur telah mencapai minus 6,5 meter dan ditargetkan menuju minus 12 meter.
Kapal tanker, kargo, peti kemas, kapal penumpang, hingga kapal berbadan besar lainnya kini sudah dapat leluasa bersandar di dermaga. Aktivitas kepelabuhanan kembali berjalan normal, bahkan dinilai jauh lebih baik dibandingkan sebelum Pelabuhan Pulau Baai terisolasi akibat tertutup sedimentasi pasir.
Baca juga: Pengerukan alur Pelabuhan Baai tahap II rampung sesuai target Inpres
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
58 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·