Pemerintah Malaysia cermati makin cepatnya penyebaran hoaks

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Kuala Lumpur (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi Malaysia Teo Nie Ching menyatakan mencermati semakin cepatnya penyebaran informasi palsu (hoaks) di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.

Hal tersebut disampaikan Wamen Teo dalam sambutannya di acara pembukaan Forum Media Hari Wartawan Nasional (Hawana) 2026, yang merupakan rangkaian menjelang penyelenggaraan puncak Hawana 2026.

"Sebagai Wakil Menteri Komunikasi, saya sangat prihatin melihat betapa cepatnya informasi palsu dapat membentuk persepsi publik saat ini. Berita, baik benar maupun salah, dapat menyebar dalam hitungan detik dan mempengaruhi cara masyarakat berpikir, bereaksi, serta mengambil keputusan," kara Teo.

Dia menyampaikan ada beberapa data yang cukup mengkhawatirkan di Malaysia, di mana pada rentang tanggal 29 Maret hingga 30 April 2026, sebanyak 464 konten palsu terkait krisis pasokan global telah teridentifikasi.

Dari jumlah tersebut, 312 konten (67 persen) berhasil diturunkan, sementara 65 laporan investigasi dibuka, dengan 15 kasus dirujuk kepada Kejaksaan Agung dan sisanya masih dalam penyelidikan.

Dia menyampaikan, pada saat yang sama, kecerdasan buatan (AI) mempercepat penyebaran misinformasi. Teknologi deepfake juga menjadi semakin meyakinkan, sementara para penipu memanfaatkan AI untuk membuat modus mereka lebih canggih dan lebih sulit dideteksi.

Menurut Teo, hal ini bukan lagi sekadar isu lokal, melainkan tantangan global yang semakin berkembang, dengan berbagai kasus manipulasi suara dan wajah untuk menipu korban.

Dia mengatakan skala konten penipuan, termasuk akun palsu dan penyamaran tokoh publik, juga meningkat tajam.

Berdasarkan data, pada tahun 2023, tercatat sebanyak 6.297 kasus penipuan berbasis digital di Malaysia. Jumlah tersebut melonjak menjadi 63.652 pada tahun 2024 dan terus meningkat menjadi 98.503 pada tahun 2025.

Sementara Januari hingga 30 April 2026, sebanyak 60.829 konten serupa telah berhasil diturunkan oleh platform-platform digital.

"Di tengah berbagai tantangan ini, satu prinsip tetap tidak berubah: jurnalisme adalah pilar demokrasi dan sumber terpercaya bagi informasi yang telah diverifikasi," kata Teo.

Dia menilai di era misinformasi, kredibilitas tidak lagi bisa diasumsikan — kredibilitas harus diraih secara konsisten dan transparan.

Oleh sebab itu dia menekankan bahwa integritas dalam media bukan sekadar idealisme, melainkan sebuah kebutuhan.

"Saya menyadari bahwa mengendalikan penyebaran misinformasi dan disinformasi bukanlah tugas yang mudah. Karena itu, literasi digital di kalangan rakyat menjadi semakin penting. Kita harus memberdayakan masyarakat agar berpikir kritis, memverifikasi informasi sebelum membagikannya, dan memahami dampak nyata dari kata-kata di ruang digital," jelasnya.

Dia menegaskan masalah informasi palsu tidak dapat diselesaikan hanya mengandalkan teknologi. Diperlukan rasa tanggung jawab bersama dari semua pihak untuk membangun lingkungan daring yang lebih aman dan saling menghormati.

Lebih jauh dia menyatakan bahwa di tengah kemajuan teknologi, media konvensional tetap relevan sebagai sumber memperoleh kebenaran informasi yang terverifikasi.

Jurnalisme memiliki kekuatan sejati pada sentuhan manusia, yang belum dapat digantikan mesin atau kecerdasan buatan.

"Di tengah kemajuan teknologi, kita tidak boleh melupakan bahwa kekuatan sejati jurnalisme terletak pada sentuhan manusianya. Nilai-nilai seperti empati, etika, dan tanggung jawab tidak dapat digantikan oleh mesin," kata Teo.

Dia menyampaikan jurnalisme harus tetap berpusat pada manusia. Meskipun AI menawarkan berbagai alat yang kuat untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi, teknologi tersebut seharusnya mendukung — bukan menggantikan — penilaian manusia, integritas, dan akuntabilitas.

CEO BERNAMA Nurul Afida Kamaludin menyatakan Forum Media Hawana 2026 diselenggarakan dalam rangkaian menuju Puncak Peringatan Hari Wartawan Nasional Malaysia 2026 yang akan diselenggarakan 20 Juni 2026 di Pulau Penang, Malaysia.

Pertemuan ini mempertemukan praktisi media profesional dan senior Malaysia serta berbagai negara serta dihadiri oleh para akademisi serta pelajar yang akan menjadi generasi wartawan berikutnya.

Baca juga: Malaysia panggil TikTok, Meta soal konten hoaks dan asusila

Baca juga: Tidak hanya RI, hoaks isu kenaikan harga BBM juga terjadi di Malaysia

Baca juga: Malaysia pelajari cara Indonesia batasi anak pakai platform digital

Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.