Pemerintah Percepat Eksplorasi Logam Tanah Jarang di Dua Wilayah

Sedang Trending 57 menit yang lalu

Pengembangan komoditas Logam Tanah Jarang (LTJ) di Indonesia saat ini masih tertahan pada fase eksplorasi pendahuluan akibat keterbatasan teknologi dan data cadangan yang belum terdeteksi secara menyeluruh. Hal tersebut disampaikan dalam agenda Badan Industri Mineral (BIM) secara daring pada Rabu (13/05/2026).

Kondisi ini menyebabkan data mengenai sumber daya serta potensi produksi komoditas tersebut sulit dipetakan secara akurat. Dilansir dari Bloomberg Technoz, Chairman Indonesia Mining Institute sekaligus Guru Besar Teknik Pertambangan ITB, Profesor Irwandy Arif, menyoroti minimnya pengalaman domestik dalam sektor ini.

"Di Indonesia ini belum ada yang pengalaman. Kondisi LTJ di Indonesia masih di tahap awal, paling tidak di eksplorasi pendahuluan," ungkap Irwandy, Chairman Indonesia Mining Institute.

Meskipun Indonesia sempat menjalin kemitraan dengan pihak asing untuk mengelola komoditas ini, namun langkah tersebut dilaporkan sering terhenti di fase awal. Irwandy mencontohkan upaya kerja sama yang pernah dilakukan oleh badan usaha milik negara di sektor pertambangan.

"Kalau di Industri sebenarnya sudah lama sekali pengambangan LTJ, contohnya di PT Timah ada kerja sama lithium dengan Prancis, perkembangannya belum maksimal," ungkap Irwandy, Guru Besar Teknik Pertambangan ITB.

Selain masalah progres yang lambat, faktor ekonomi menjadi kendala utama karena Indonesia dinilai belum memiliki teknologi pengolahan yang efisien. Hingga saat ini, enam kesepakatan kerja sama dengan perusahaan global belum membuahkan hasil final.

"Sampai dengan saat ini, Indonesia belum punya teknologi LTJ yang mencapai skala keekonomian. Mulai dari kita merintis melalui PT Timah dengan kerja sama melalui perusahaan-perusahaan di dunia sudah ada enam [kerja sama], tapi belum tercapai kesepakatan sampai sekarang," jelas Irwandy, Pakar Pertambangan.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, pengelolaan LTJ kini didorong agar lebih maksimal di bawah koordinasi Badan Industri Mineral (BIM) yang bernaung di bawah Danantara. Langkah ini merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo guna memperkuat kemandirian mineral nasional.

"Keterbatasan fasilitas pengolahan dan pemurnian di dalam negeri inilah yang menyebabkan kita sulit mendapatkan produksi hasil LTJ sendiri," ungkap Irwandy, Chairman Indonesia Mining Institute.

Data tahun 2023 memprediksi total sumber daya LTJ nasional mencapai 136.206 ribu ton bijih atau setara 118.650 ton logam. Rincian data tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:

Data Sumber Daya Logam Tanah Jarang Indonesia 2023Kategori CadanganJumlah Bijih (Ribu Ton)Jumlah Logam (Ton)
Tereka128.885114.236
Tertunjuk5.4993.317
Terukur1.8221.097

Pemerintah kini tengah menggarap dua wilayah sebagai proyek percontohan atau pilot plant LTJ. Proyek pertama berlokasi di Tanjung Ular, Bangka Belitung, yang difokuskan pada pengolahan monasit dan mineral ikutan timah seperti Cerium, Lantanum, dan Neodymium oleh PT Timah dan Perminas.

Proyek kedua berada di Mamuju, Sulawesi Barat, yang saat ini masih dalam persiapan tahap awal. Wilayah Mamuju dinilai strategis karena memiliki kandungan Logam Tanah Jarang Primer pertama yang ditemukan di Indonesia.