Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan harga minyak mentah dunia belum akan mengalami penurunan dalam waktu dekat akibat ketegangan geopolitik berkepanjangan di Timur Tengah. Langkah antisipasi disiapkan melalui pemberian insentif kendaraan listrik pada Juni 2026 guna menekan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Keputusan pemberian insentif ini diambil setelah pemerintah menganalisis dinamika hubungan internasional antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel. Dilansir dari Bloombergtechnoz, lonjakan harga energi ini menjadi beban signifikan bagi kas negara di tengah menyempitnya ruang fiskal pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Karena kita lihat harga minyak dunia kan enggak akan turun. Setelah saya ke Amerika, saya pelajari cara Amerika melakukan diskusi dan mendesain term yang diberikan untuk Iran. Itu sepertinya desainnya untuk negara yang kalah perang. Dan pasti akan ditolak oleh Iran," jelas Purbaya, Menteri Keuangan.
Analisis pemerintah menunjukkan bahwa negosiasi diplomatik yang ada saat ini cenderung tidak akan menemui titik temu dalam waktu singkat. Purbaya menilai penolakan Iran terhadap syarat-syarat tertentu menjadi indikator bahwa stabilitas kawasan masih jauh dari jangkauan.
"Hitungan saya nih ya. Jadi kelihatannya itu perangnya masih panjang," jelas Purbaya, Menteri Keuangan.
Tingginya harga minyak dunia berdampak langsung pada realisasi belanja subsidi dan kompensasi energi yang melonjak hingga 266,5 persen menjadi Rp118,7 triliun pada Kuartal I-2026. Selain mendorong kendaraan listrik, Kemenkeu berencana mengurangi subsidi bagi PT PLN (Persero) melalui optimalisasi pasokan listrik yang berlebih.
"Itu mungkin kapasitas yang baru terpakai sekitar 70%, masih ada 30% listrik yang kita bayar tapi enggak dipakai. Kalau saya enggak salah ingat ya, tapi Anda bisa diskusi dengan PLN. Tapi yang jelas ada listrik yang belum terpakai yang kita bayar, saya mau pakai itu supaya subsidinya di PLN mengecil, BBM juga mengecil, itu utamanya," jelas Purbaya, Menteri Keuangan.
Pemerintah memprediksi eskalasi konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat paling cepat mereda pada September 2026. Hal ini berkaitan erat dengan momentum politik di Amerika Serikat yang sedang menghadapi periode pemilu paruh waktu.
"Jadi saya pikir kan perangnya sebentar lagi selesai, ya sudah nggak usah pusing-pusing. Ternyata setelah saya lihat, kayaknya masih lama kalau begini. Paling jelek itu September. Paling bagus September itu berakhir, karena di sana ada pemilihan kan di Amerika Serikat. Tapi bisa saja jalan berlanjut terus, jadi kita akan monitor terus," ucap Purbaya, Menteri Keuangan.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli tercatat ditutup pada level US$104,21 per barel pada Senin (11/5/2026). Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$98 per barel setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang meragukan gencatan senjata dengan Iran memperpanjang penutupan Selat Hormuz.
| Total Belanja Subsidi & Kompensasi | Rp118,7 Triliun | 266,5% |
| Belanja Subsidi | Rp52,2 Triliun | 61,1% |
| Belanja Kompensasi | Rp66,5 Triliun | - |
| Subsidi BBM | 3.173,6 Ribu KL | 9,2% |
| Subsidi LPG | 1.419,5 Juta Kg | 3,8% |
| Subsidi Pupuk | 1,9 Juta Ton | 13,6% |
Kenaikan paling signifikan terlihat pada subsidi pupuk yang tumbuh 13,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah berkomitmen akan terus melakukan penghematan anggaran secara ketat dalam beberapa bulan ke depan guna menjaga stabilitas APBN.
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·