Penjualan luar negeri BYD melonjak imbas kenaikan harga bahan bakar

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - BYD mencatat lonjakan penjualan di pasar mancanegara pada April 2026, seiring meningkatnya minat terhadap kendaraan listrik akibat kenaikan harga bahan bakar imbas konflik di Timur Tengah.

Dilansir dari Business Times pada Minggu, dalam laporan yang disampaikan melalui platform Weibo, BYD menyebutkan penjualan di luar China meningkat 71 persen secara tahunan menjadi 134.542 unit. Namun, peningkatan tersebut belum mampu memulihkan akumulasi pengiriman kendaraan yang turun 16 persen menjadi 321.123 unit.

Kuatnya kinerja penjualan di pasar internasional menunjukkan pentingnya ekspansi global bagi BYD, terutama di tengah melemahnya permintaan domestik di China. Penurunan permintaan di pasar dalam negeri dipicu oleh berakhirnya subsidi pemerintah serta meningkatnya persaingan dari produsen lain seperti Geely dan Xiaomi.

Baca juga: BYD naikkan harga fitur ADAS karena biaya chip memori melonjak

Baca juga: BYD luncurkan Han EV Flash Charge Edition dengan harga Rp453 juta

BYD menargetkan penjualan sekitar 1,3 juta kendaraan di luar China sepanjang 2026 atau meningkat sekitar 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, penurunan penjualan yang berlangsung selama delapan bulan berturut-turut di pasar domestik, ditambah perang harga yang ketat, turut menekan kinerja keuangan perusahaan dan meningkatkan beban utang jangka pendek.

Untuk mendorong pertumbuhan, BYD mengandalkan peluncuran model baru serta pengembangan teknologi baterai pengisian cepat. Pada ajang Beijing Auto Show, perusahaan bahkan menempati satu aula penuh untuk memamerkan strategi multi merek serta kendaraan dengan teknologi baterai “blade” terbaru yang disebut lebih canggih dan aman.

Salah satu model andalan BYD, SUV Great Tang, dilaporkan meraih lebih dari 30.000 pesanan dalam 24 jam pertama sejak peluncuran. Kendaraan tujuh penumpang tersebut diklaim mampu menempuh jarak hampir 1.000 kilometer dalam sekali pengisian daya, dengan harga awal sekitar 250.000 yuan.

Di sisi lain, produsen otomotif China masih mengandalkan diskon untuk menarik konsumen domestik, meski pemerintah berupaya meredam perang harga. Tercatat rata-rata pemotongan harga mobil BYD meningkat hingga 10 persen pada Maret, tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Kondisi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi industri otomotif listrik di China, di mana persaingan ketat dan perubahan kebijakan turut mempengaruhi pertumbuhan pasar.

Baca juga: Penjualan BYD terus anjlok sejak delapan bulan terakhir

Baca juga: BYD Yangwang U9 Xtreme terjual dengan harga sekitar Rp47 miliar

Baca juga: BYD luncurkan FCB Ti7 Flash Charging Edition dengan jarak 755 km

Pewarta:
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

  • Tags
  • BYD
  • Mobil listrik
  • Bahan bakar naik