PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) resmi membuka proses prakualifikasi tender engineering, procurement, construction, and commissioning (EPCC) untuk proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban pada Kamis (7/5/2026). Pembukaan tender ini mencakup dua paket pekerjaan utama untuk pembangunan kilang minyak dan petrokimia baru di Jawa Timur.
Dilansir dari BloombergTechnoz, anak usaha PT Pertamina (Persero) tersebut menawarkan pengerjaan Kilang I GRR Tuban dengan nomor BS-001/PRPP-310/2026-S0 dan Kilang II melalui nomor BS-002/PRPP-310/2026-S0. Pengiriman dokumen oleh calon peserta dijadwalkan berlangsung pada 6 hingga 26 Mei 2026 melalui saluran komunikasi resmi perusahaan.
Pihak manajemen mengundang berbagai perusahaan baik skala nasional maupun internasional untuk terlibat dalam pembangunan fasilitas energi berskala besar ini.
"PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) mengundang perusahaan Anda untuk berpartisipasi dalam proses prakualifikasi untuk Paket EPCC Proyek Kilang Minyak dan Petrokimia Baru di Tuban," tulis pengumuman prakualifikasi tender tersebut.
Persyaratan keikutsertaan mewajibkan perusahaan asing untuk berkolaborasi dengan entitas dalam negeri dalam bentuk konsorsium atau kerja sama operasi. PRPP menekankan pentingnya keterlibatan industri lokal dalam struktur manajemen proyek tersebut.
"Entitas yang memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam prakualifikasi harus berupa Perusahaan Tunggal [asing/nasional] atau konsorsium/JV/JO yang terdiri dari Pemimpin dan Anggota dengan setidaknya satu perusahaan nasional," tulis PPRP dalam pengumumannya.
Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memantau perkembangan keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) dari mitra Rusia, Rosneft. Meskipun target awal pada akhir 2025 terlampaui, pemerintah memastikan komunikasi tetap berjalan intensif.
"Masih berproses [FID Rosneft di Kilang Tuban]," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Laode Sulaeman.
Hingga saat ini, pihak kementerian belum menetapkan tenggat waktu baru secara spesifik terkait penyelesaian kesepakatan investasi tersebut. Pemerintah memilih untuk menunggu perkembangan hasil negosiasi yang sedang dilakukan oleh para pihak terkait.
"Belum, tetapi tetap berproses. Kan masih berproses, kita tunggu ya," tegas Laode.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengindikasikan bahwa kepastian mengenai arah investasi proyek ini akan segera diputuskan. Pertemuan tingkat tinggi antara Pertamina dan Rosneft Singapore Pte Ltd telah dilakukan untuk membahas detail kerja sama.
"Rosneft lagi melakukan pembahasan dengan Pertamina. Nanti di pertengahan bulan ini baru ada keputusan," kata Bahlil.
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza memberikan sinyal bahwa terdapat potensi penambahan mitra baru untuk memperkuat struktur permodalan. Langkah ini diambil mengingat skala proyek yang membutuhkan pendanaan sangat besar demi menjamin keberlangsungan pembangunan.
"Karena itu kita melakukan partnerships. Saat ini statusnya sedang FID nanti mudah-mudahan kita bisa segera menyelesaikannya dan mudah-mudahan bisa segera menuju tahapan selanjutnya. Untuk partner-partner di refinery ini kami tentunya berkoordinasi sangat erat dengan pemerintah, dengan Danantara, dan juga dengan Kementerian ESDM," kata Oki.
Proyek GRR Tuban memiliki nilai investasi yang diproyeksikan mencapai US$24 miliar atau setara Rp391,9 triliun. Fasilitas ini dirancang untuk mengolah minyak mentah dengan kapasitas mencapai 300.000 barel per hari guna memperkuat ketahanan energi nasional.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·