Aparat Kepolisian Northern Territory di Australia menemukan jasad bocah perempuan berusia lima tahun yang sempat dilaporkan hilang di wilayah Alice Springs pada Kamis, 30 April 2026. Penemuan ini dikonfirmasi setelah proses pencarian intensif dilakukan sejak bocah tersebut menghilang dari permukiman Old Timers/Ilyperenye pada Sabtu malam lalu.
Keluarga korban meminta agar anak tersebut disebut sebagai Kumanjayi Little Baby demi menghormati tradisi setempat. Dilansir dari Detikcom, Komisaris Polisi Northern Territory, Martin Dole, memberikan keterangan resmi mengenai hasil pencarian yang berakhir duka tersebut dalam sebuah konferensi pers di hari yang sama.
"Tepat sebelum tengah hari ini, anggota kepolisian dari tim pencarian menemukan jenazah seorang gadis muda Aborigin yang kami yakini sebagai Sharon Granites yang berusia lima tahun," kata Martin Dole, Komisaris Polisi Northern Territory.
Pihak berwenang segera menghubungi kerabat korban untuk memberikan informasi mengenai perkembangan terbaru ini. Martin Dole menyatakan rasa belasungkawa yang mendalam kepada pihak keluarga atas kejadian yang menimpa bocah malang tersebut.
"Keluarga Sharon telah diberitahu secara resmi dan kami turut berduka cita atas kehilangan mereka di saat yang menyedihkan ini," kata Martin Dole, Komisaris Polisi Northern Territory.
Selain kasus di Australia, sorotan internasional tertuju pada fakta terbaru kasus percobaan pembunuhan Presiden AS Donald Trump. Dokumen pengadilan mengungkapkan tersangka bernama Cole Tomas Allen sempat mengambil foto selfie di kamar hotelnya dalam kondisi bersenjata lengkap sebelum melancarkan aksi.
Laporan dari London juga menyebutkan adanya aksi penikaman terhadap dua pria Yahudi berusia 76 dan 34 tahun di Golders Green pada Rabu pagi. Kepolisian Metropolitan London berhasil membekuk tersangka yang merupakan warga negara Inggris kelahiran Somalia setelah melumpuhkannya dengan alat kejut listrik.
"Tersangka juga mencoba menikam petugas polisi dan dilumpuhkan dengan alat kejut listrik sebelum ditangkap. Tidak ada petugas yang terluka," kata Kepolisian Metropolitan.
Kabar lain datang dari dunia olahraga di mana FIFA secara resmi mengizinkan tim nasional sepak bola putri Afganistan untuk kembali bertanding di kancah internasional. Keputusan ini menjadi angin segar bagi para atlet perempuan Afganistan yang banyak mengungsi ke Australia akibat pembatasan ketat oleh otoritas Taliban sejak 2021.
Pendiri sekaligus mantan kapten tim, Khalida Popal, menyambut positif langkah badan sepak bola dunia tersebut. Baginya, kembalinya tim putri ke lapangan hijau membawa pesan moral yang kuat bagi para perempuan di negara asalnya.
"tim tersebut akan menjadi simbol perlawanan bagi mereka yang berjuang di tanah air," kata Khalida Popal, Mantan Kapten Timnas Putri Afganistan.
Saat ini, sebagian besar pemain timnas putri Afganistan menetap di Australia. FIFA berharap pembukaan akses ini dapat memberikan kesempatan bagi para pemain untuk menunjukkan kemampuan mereka secara global setelah absen selama beberapa tahun terakhir.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·