Polda Metro Jaya meningkatkan status kasus tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur ke tahap penyidikan setelah memeriksa 39 saksi pada Jumat (8/5/2026). Sebanyak 12 korban dilaporkan masih menjalani perawatan intensif di tujuh rumah sakit berbeda akibat insiden tersebut.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menjelaskan rincian jumlah korban yang masih mendapatkan penanganan medis hingga saat ini sebagaimana dilansir dari Detikcom. Sebaran pasien mencakup RSUD Kota Bekasi, RSUD Kabupaten Bekasi, hingga beberapa rumah sakit swasta di wilayah Bekasi dan Jakarta.
"Update pasien, per tanggal 7 Mei 2026 pukul 13.00 WIB, masih terdapat 12 orang korban yang masih menjalani rawat inap di tujuh rumah sakit," ujar Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya.
Budi merinci bahwa dari total korban tersebut, lima orang berada di RSUD Kota Bekasi, sementara sisanya tersebar masing-masing satu atau dua orang di RS Mitra Bekasi Timur, RS Primaya Bekasi Timur, RSUD Kabupaten Bekasi, RS MMC Kuningan, RS Primaya Barat, dan RS Eka Hospital Harapan Indah.
"Pemeriksaan lanjutan difokuskan tentang unsur teknis perkeretaapian, instansi terkait. Serta pihak yang berkaitan dengan operasional kendaraan taksi online," jelas Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya.
Penyidik kini mendalami keterangan dari berbagai pihak, termasuk tiga petugas dari PT KAI Daop 1 Manggarai dan manajemen perusahaan taksi online Green SM. Pemeriksaan mencakup aspek teknis persinyalan hingga prosedur operasional kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan pada Senin (27/4) malam lalu tersebut.
"Selanjutnya, keterangan dari saksi PT Hans SM Green and Smart Mobility Indonesia juga sudah diambil keterangannya, yaitu Saudari KS Driver Recruitment Manager, Saudara MI Bagian Training/Pelatihan Sopir, Saudara BM Bagian Repair and Maintenance Control Manager, Saudara SF Dept Manager Operasional Bekasi, dan saudara pengemudi RR," ujar Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya.
Tim gabungan dari Puslabfor Bareskrim Polri dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga terlibat aktif dalam proses investigasi ini. Penyelidikan diarahkan untuk mengungkap penyebab pasti terjadinya korsleting pada taksi yang memicu rangkaian tabrakan fatal ini.
"Sampai saat ini proses masih berjalan, dan secara simultan penyidik Polda Metro Jaya, Puslabfor Bareskrim Polri bersama KNKT seiring sejalan melakukan pendalaman sesuai dengan tugas pokok masing-masing," tutur Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya.
Peristiwa tragis ini bermula saat sebuah taksi mengalami gangguan teknis di tengah rel, yang kemudian memicu tabrakan beruntun melibatkan KRL dan kereta api jarak jauh. Hingga saat ini, tercatat 16 orang meninggal dunia dan 90 orang lainnya mengalami luka-luka akibat musibah tersebut.
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·