Prabowo sebut konflik Ukraina hingga Gaza picu kenaikan harga pangan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto menyebutkan konflik geopolitik global seperti di Ukraina dan Gaza akan memicu lonjakan harga komoditas pangan dan energi di pasar domestik.

"Apa yang terjadi di belahan jauh bumi kita, berpengaruh kepada kita. Apa yang terjadi di Ukraina berpengaruh kepada kita, berpengaruh kepada harga jagung, harga gandum, harga minyak," kata Presiden Prabowo melalui video di YouTube Sekretariat Kabinet, Jakarta, Rabu.

Prabowo menjelaskan bahwa gejolak di Ukraina, Gaza, hingga ketegangan di Teluk Persia antara Iran dan Amerika-Israel telah menekan stabilitas ekonomi nasional.

Situasi tersebut, kata Presiden Prabowo, menuntut Indonesia untuk segera memperkuat fondasi ekonomi mandiri agar tidak terus bergantung pada dinamika krisis yang terjadi di luar perbatasan negara.

Presiden pun membandingkan kondisi stabilitas keamanan Indonesia dengan negara-negara yang saat ini hancur akibat perang seperti Lebanon, Sudan, Somalia, Yaman dan Afghanistan.

Baca juga: Filipina pastikan KTT ke-48 ASEAN tetap digelar, tetapi disederhanakan

"Bukalah berita, lihatlah, kita ditempatkan sebagai negara yang paling aman di dunia sekarang. Perdamaian sangat mahal, kita jaga bangsa kita," kata Presiden saat meresmikan proyek hilirisasi di Cilacap, Jawa Tengah itu.

Menurut Presiden, nasionalisme dan persatuan merupakan tameng utama untuk menghadapi kekuatan besar dunia atau hegemon yang selalu ingin mendominasi kekayaan sumber daya bangsa lain.

Ia menilai bangsa yang tidak memiliki keberanian untuk mengelola kekayaan alamnya sendiri akan terus terjebak dalam kemiskinan dan ketergantungan terhadap rantai perdagangan global.

Oleh sebab itu, program hilirisasi menjadi jalan tunggal bagi pemerintah untuk memastikan nilai tambah sumber daya alam sepenuhnya dikelola dan dinikmati oleh rakyat Indonesia.

Prabowo pun mengajak seluruh elemen teknokrat, ilmuwan, hingga pelaku industri untuk bersinergi menjaga kedaulatan ekonomi nasional di tengah ancaman ketidakpastian dunia yang semakin kompleks.

Baca juga: Waka MPR: Antisipasi dampak konflik Timteng dengan kebijakan tepat

"Sekarang saatnya para teknokrat, sekarang saatnya para ilmuwan, sekarang saatnya para insinyur, para profesor, jadi profesor Merah Putih, jadi profesor pembela rakyat, jadi insinyur untuk bangsa dan rakyat," katanya menegaskan.

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.