Prajurit Israel Rusak Patung Yesus di Lebanon Memicu Kecaman Global

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Seorang prajurit militer Israel memicu gelombang kecaman internasional setelah tertangkap kamera memukul patung Yesus menggunakan godam di wilayah pinggiran Debel, Lebanon selatan, pasca berlakunya gencatan senjata pada Jumat (17/04) lalu.

Aksi perusakan tersebut dilaporkan terjadi di luar sebuah rumah warga di desa Debel, salah satu wilayah yang masih dihuni penduduk di tengah konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, segera memberikan pernyataan resmi untuk merespons kemarahan publik atas insiden penodaan simbol agama tersebut.

"terkejut dan sedih" kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.

Pemerintah Israel juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui Menteri Luar Negeri mereka guna meredam ketegangan diplomatik dan sentimen umat beragama.

"Kami meminta maaf atas insiden ini dan kepada setiap umat Kristen yang perasaannya terluka." ujar Gideon Saar, Menteri Luar Negeri Israel.

Pemimpin komunitas Kristen setempat di Debel menyatakan keberatan keras atas tindakan tersebut dan menegaskan bahwa aksi itu melanggar prinsip hak asasi manusia.

"Kami sepenuhnya menolak penodaan terhadap salib, simbol suci kami, dan semua simbol keagamaan." kata Pastor Fadi Flaifel, Kepala jemaat Debel.

Pihak gereja menilai tindakan prajurit tersebut tidak mencerminkan perilaku beradab dan mengklaim adanya kejadian serupa di masa lalu.

"Ini bertentangan dengan deklarasi hak asasi manusia, dan tidak mencerminkan peradaban," lanjut Pastor Fadi Flaifel, Kepala jemaat Debel.

Militer Israel (IDF) telah memberikan konfirmasi terkait keaslian foto yang beredar di media sosial dan menyatakan akan mengambil langkah tegas terhadap personel yang terlibat.

"dengan sangat serius dan menekankan bahwa perilaku prajurit tersebut sepenuhnya tidak sejalan dengan nilai-nilai yang diharapkan dari pasukannya" ujar pihak Militer Israel.

IDF menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen untuk memulihkan kerusakan yang terjadi demi menjaga hubungan dengan komunitas Kristen.

"Langkah-langkah yang tepat" kata pihak Militer Israel.

Kecaman juga datang dari pejabat Amerika Serikat, termasuk Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, yang menuntut adanya sanksi berat atas peristiwa tersebut.

"konsekuensi yang cepat, berat, dan terbuka diperlukan" tulis Mike Huckabee, Duta Besar AS untuk Israel.

Ia juga menyinggung kebijakan pembatasan akses ibadah yang pernah dilakukan kepolisian Israel terhadap pemimpin Katolik di Yerusalem bulan lalu.

"tindakan kelewatan yang disayangkan dan menimbulkan dampak besar di seluruh dunia" tutur Mike Huckabee, Duta Besar AS untuk Israel.

Menurutnya, tindakan pengrusakan dan hambatan bagi pemuka agama untuk memasuki tempat suci merupakan hal yang sulit diterima secara logika.

"sulit untuk dipahami atau dibenarkan" kata Mike Huckabee, Duta Besar AS untuk Israel.

Kritik pedas turut dilayangkan oleh anggota Kongres AS, Marjorie Taylor Greene, melalui unggahan foto prajurit tersebut di media sosial.

"'Sekutu terbesar kami' yang setiap tahun menerima miliaran dolar pajak dan senjata kami." tulis Marjorie Taylor Greene, Mantan anggota Kongres AS.

Mantan penasihat kepresidenan AS, Matt Gaetz, juga memberikan tanggapan singkat namun tegas terkait foto pengrusakan tersebut.

"Mengerikan," tulis Matt Gaetz, Mantan anggota Kongres AS.

Meskipun laporan Rossing Center tahun 2025 menyebutkan adanya lonjakan permusuhan terhadap Kekristenan, PM Netanyahu membela kondisi kebebasan beragama di negaranya.

"populasi Kristen di Israel berkembang tidak seperti di tempat lain di Timur Tengah" klaim Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.

Netanyahu menekankan bahwa wilayahnya tetap menjadi tempat yang menjamin pertumbuhan standar hidup umat Kristen di kawasan tersebut.

"Israel adalah satu-satunya negara di kawasan di mana populasi Kristen dan standar hidupnya meningkat. Israel adalah satu-satunya tempat di Timur Tengah yang menjunjung kebebasan beribadah bagi semua." lanjut Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.

Hingga saat ini, ribuan tentara Israel masih menduduki Lebanon selatan setelah operasi militer yang dimulai sejak 2 Maret telah menewaskan lebih dari 2.290 orang di pihak Lebanon.