Praktisi: AI bawa tantangan dan peluang dunia pengalihbahasaan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Kuala Lumpur (ANTARA) - Wakil Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) Eki Qushay Akhwan menilai kecerdasan buatan (AI) membawa tantangan sekaligus peluang dalam dunia penerjemahan atau pengalihbahasaan.

"Kehadiran AI membawa tantangan sekaligus peluang yang sangat besar dalam pendidikan penerjemah. Tantangan utamanya adalah perubahan kompetensi yang dibutuhkan pasar," kata Eki.

Demikian disampaikannya pada peluncuran Aliansi Penerjemahan, Penjurubahasaan, dan Komunikasi China–ASEAN, dalam rangkaian pembukaan Konferensi Penerjemahan, Penjurubahasaan, dan Komunikasi China–ASEAN, di Xiamen University Malaysia (XMUM), di Malaysia, Sabtu (18/4).

Eki menyebut dalam dunia pendidikan di masa lalu, fokus pendidikan penerjemah banyak bertumpu pada penguasaan bahasa dan teknik penerjemahan konvensional. Namun kini lulusan juga perlu memahami penerjemahan dengan bantuan teknologi, post-editing, manajemen terminologi, literasi data, quality assurance, serta etika penggunaan AI.

Menurut Eki, kurikulum yang tidak beradaptasi berisiko menghasilkan lulusan yang kurang siap menghadapi realitas industri yang berubah cepat.

Tantangan lain adalah persepsi keliru bahwa AI dapat sepenuhnya menggantikan penerjemah manusia. Dalam praktik profesional, terutama untuk teks bernilai tinggi, sensitif, kreatif, atau berdampak hukum dan reputasi, Eki berpendapat peran manusia tetap sangat penting.

"Yang berubah bukan kebutuhan terhadap penerjemah, melainkan profil kompetensinya. Penerjemah masa depan perlu menjadi language professional yang mampu bekerja berdampingan dengan teknologi, bukan bersaing dengan teknologi," jelasnya.

Baca juga: Perusahaan rintisan dari Jepang perbanyak alih bahasa manga dengan AI

Di sisi lain kehadiran AI juga membawa peluang besar bagi dunia pengalihbahasaan.

Eki mengatakan AI dapat meningkatkan produktivitas, mempercepat riset terminologi, membantu konsistensi istilah, memperluas akses pelatihan, dan membuka model layanan baru seperti multilingual content management, localization, transcreation, serta layanan bahasa untuk ekonomi digital.

Dalam pendidikan, AI dapat dimanfaatkan untuk simulasi proyek nyata, umpan balik cepat, analisis kesalahan, dan personalisasi pembelajaran.

Menurut dia, jika dikelola dengan baik, AI justru dapat meningkatkan mutu pendidikan penerjemah.

"Sebagai wakil dari Himpunan Penerjemah Indonesia, saya sangat berharap adanya kerja sama konkret dengan China-ASEAN Association of Translation, Interpreting and Communication untuk menghadapi tantangan AI secara kolaboratif," harapnya.

Dia menyebut tantangan teknologi bersifat lintas batas, sehingga responsnya juga idealnya harus bersifat regional.

"Tidak ada satu institusi atau satu negara yang dapat menjawab seluruh tantangan ini sendirian," kata Eki.

Baca juga: Kuliah daring Korean Cultural Center, alih bahasa hingga nasionalisme

Eki pun mengusulkan enam bidang prioritas kerja sama yang dapat dilakukan bersama yakni:

1. Pengembangan kurikulum dan bahan ajar bersama, seperti modul pelatihan tentang literasi AI, post-editing, prompting untuk profesional bahasa, etika AI, dan manajemen mutu yang relevan dengan konteks Asia dan ASEAN.

2. Pelatihan dosen, pelatih, dan praktisi, melalui program peningkatan kapasitas agar mereka dapat mengintegrasikan teknologi terbaru ke dalam pembelajaran dan praktik kerja.

3. Penelitian bersama, khususnya tentang dampak AI terhadap kualitas terjemahan, perubahan pasar kerja, kebutuhan kompetensi baru, bahasa dengan sumber daya terbatas, serta standar evaluasi kualitas di kawasan.

4. Pertukaran mahasiswa dan tenaga ahli, karena mobilitas akademik dan profesional akan sangat bermanfaat untuk berbagi praktik terbaik, memahami kebutuhan pasar lintas negara, dan membangun jejaring generasi baru profesional bahasa.

5. Standar kompetensi dan sertifikasi regional, di mana semua pihak perlu mulai mendiskusikan kompetensi penerjemah era AI agar ada rujukan bersama yang diakui lintas negara.

6. Pengembangan sumber daya bahasa digital, seperti korpus, glosarium multibahasa, dan dataset berkualitas untuk mendukung teknologi bahasa bagi bahasa-bahasa di kawasan.

Aliansi yang diprakarsai oleh Xiamen University dan didirikan bersama oleh lebih dari 10 lembaga terkemuka dari China, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan negara lainnya, memiliki sekretariat di College of Foreign Languages and Cultures, Xiamen University, China.

Peluncuran aliansi ini menandai babak baru kerja sama penerjemahan dan komunikasi lintas budaya antara China dan negara-negara ASEAN, sekaligus langkah awal menghadapi tantangan dan peluang di era kecerdasan buatan.

Baca juga: Perpusnas lakukan percepatan alih aksara dan bahasa naskah kuno

Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.