Prancis Kerahkan Kapal Induk Charles de Gaulle Amankan Selat Hormuz

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Pemerintah Prancis mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir Charles de Gaulle menuju Laut Merah dan Teluk Aden pada Rabu (6/5/2026) untuk menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Langkah militer ini menyusul penutupan jalur maritim vital tersebut oleh Iran sejak akhir Februari lalu.

Eskalasi di kawasan meningkat setelah Iran memblokade Selat Hormuz sebagai respons atas perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Kondisi ini memicu gangguan logistik global dan lonjakan harga bahan bakar karena terhentinya pasokan minyak dari Teluk Persia.

Kementerian Pertahanan Prancis menyatakan armada kapal induk tersebut sedang melintasi Terusan Suez dari Mediterania Timur menuju posisi baru di selatan. Penempatan ini menjadi dasar bagi operasi multinasional yang direncanakan bersama Inggris demi stabilitas ekonomi dunia.

"Ini untuk mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan rencana ini sesuai dengan situasi yang memungkinkan," kata Kementerian Pertahanan Prancis sebagaimana dikutip dari AP.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pergerakan armada bertujuan untuk mempercepat respons militer jika situasi di lapangan menuntut tindakan segera. Prancis menilai dampak ekonomi dari blokade tersebut sudah terlalu parah untuk diabaikan lebih lanjut.

Kapal induk Charles de Gaulle memiliki spesifikasi tempur yang signifikan dengan panjang 261 meter dan berat 42.500 ton. Kapal yang mampu mengangkut 30 jet tempur Rafale ini sebelumnya pernah singgah di Pelabuhan Gili Mas, Lombok, Indonesia pada Januari 2025.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengusulkan pembentukan misi keamanan internasional yang independen dari pihak-pihak yang bertikai. Usulan ini disampaikan langsung kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian guna memulihkan kepercayaan perusahaan asuransi dan pemilik kapal.

"Misi multinasional yang dibentuk oleh Prancis dan Inggris dapat membantu memulihkan kepercayaan di antara pemilik kapal dan perusahaan asuransi," tulis Macron di X.

Macron berharap inisiatif ini dapat membuka jalan bagi kemajuan negosiasi yang lebih luas, termasuk mengenai senjata nuklir dan rudal balistik. Ia juga berencana membawa isu stabilitas regional ini ke hadapan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

"Misi ini, pada dasarnya, akan independen dari pihak-pihak yang bertikai... Saya telah mengundang presiden Iran untuk memanfaatkan kesempatan ini dan bermaksud untuk membahas masalah ini dengan Presiden [AS] [Donald] Trump," tulis Macron.

Melalui pengiriman armada ini, pemerintah Prancis ingin menunjukkan keseriusan dalam menjaga ketertiban jalur pelayaran internasional. Blokade yang berlarut-larut dianggap sebagai ancaman serius bagi keamanan energi global.

"Blokade Selat Hormuz terus berlanjut, dampaknya terhadap ekonomi global semakin parah, dan risiko konflik berkepanjangan terlalu serius untuk diterima," ujar laporan dari CNN Indonesia.

Prancis memposisikan dirinya sebagai mediator sekaligus kekuatan militer yang siap bertindak jika upaya diplomatik tidak segera membuahkan hasil. Pengerahan kapal induk ini menjadi simbol kekuatan untuk memastikan pasokan energi dunia kembali lancar.

"Sinyal bahwa kami tidak hanya siap mengamankan Selat Hormuz, tetapi juga memiliki kemampuan untuk melakukannya," kata Presiden Emmanuel Macron.