Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Senin (20/4/2026) menegaskan komitmen negaranya untuk mengakhiri perselisihan dengan Amerika Serikat dan Israel secara terhormat, sembari menolak intervensi Presiden Donald Trump terhadap hak nuklir Teheran. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan pasca-gencatan senjata rapuh di Timur Tengah.
Dilansir dari Detikcom, ketegangan diplomatik kembali memanas setelah adanya ancaman dari pihak Washington terkait pengelolaan kekayaan uranium Teheran. Pezeshkian menanggapi langkah politik tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan bangsa Iran yang sedang mengupayakan stabilitas kawasan.
"Trump mengatakan bahwa Iran tidak seharusnya menggunakan hak nuklirnya, tetapi tidak menjelaskan kejahatan apa yang telah dilakukan Iran," kata Pezeshkian dalam pernyataannya, seperti dilaporkan kantor berita ISNA.
Pemimpin Iran tersebut kemudian mempertanyakan legitimasi otoritas Amerika Serikat dalam mengatur kebijakan domestik dan teknologi negara lain secara sepihak di forum internasional.
"Siapa dia sehingga berhak mencabut hak suatu bangsa?" tanya Presiden Iran tersebut.
Pezeshkian menekankan bahwa kebebasan dan hak asasi merupakan prinsip universal yang melekat pada setiap individu tanpa memandang latar belakang ideologi maupun identitas kesukuan.
"Dari perspektif prinsip-prinsip kemanusiaan, setiap orang bebas, terlepas dari agama, kepercayaan, ras, atau etnisnya, untuk menikmati hak-haknya yang tidak dapat dicabut," tegas Pezeshkian.
Pidato ini disampaikan usai Donald Trump mengancam akan mengambil langkah tidak ramah untuk mengamankan uranium Iran jika kesepakatan baru gagal tercapai. Pezeshkian pun menyerukan rakyatnya agar tetap teguh menghadapi tekanan eksternal yang ia nilai brutal.
"Trump mengatakan bahwa Iran tidak seharusnya menggunakan hak nuklirnya, tetapi tidak menjelaskan kejahatan apa yang telah dilakukan Iran," kata Pezeshkian.
Ia juga berupaya menepis citra agresor yang sering disematkan kepada Iran oleh blok Barat selama berlangsungnya konflik fisik di lapangan.
"Iran, cetus Pezeshkian, harus mengelola atmosfer saat ini sedemikian rupa sehingga "tidak menggambarkan kita sebagai penghasut perang" karena "kita sedang membela diri"
Mantan menteri kesehatan itu menyatakan bahwa sejak awal Iran tidak memiliki agenda untuk memulai konfrontasi bersenjata dengan pihak manapun di dunia.
"Kami adalah pasifis dan apa yang kami lakukan adalah pembelaan diri yang sah," tegas Pezeshkian.
Sejarah konflik mencatat Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan pada 28 Februari lalu, yang memicu aksi balasan drone dan rudal Iran. Meski gencatan senjata berlangsung sejak 8 April lewat mediasi Pakistan, situasi tetap kritis akibat kegagalan perundingan lanjutan. Saat ini, upaya dialog baru sedang dipersiapkan di Islamabad untuk mencegah pecahnya kembali perang terbuka.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·