Washington (ANTARA) - Lebih dari 600 karyawan Google mengirimkan surat kepada CEO Sundar Pichai yang berisi desakan untuk menolak Pentagon menggunakan kecerdasan buatan (AI) milik perusahaan itu untuk pekerjaan rahasia.
Seperti dilaporkan The Washington Post, surat yang dikirim pada Senin (27/4) itu meminta Pichai menghindari perjanjian apa pun dengan Departemen Pertahanan AS untuk mengizinkan penggunaan rahasia AI milik Google.
Hal itu, menurut surat tersebut, akan membuat perwakilan Google tidak dapat melacak bagaimana teknologi tersebut digunakan.
"Kami ingin melihat manfaat kemanusiaan dari kecerdasan buatan, bukan melihat bagaimana teknologi itu digunakan dengan cara yang baik tidak manusiawi maupun sangat berbahaya. Ini tidak hanya mencakup persenjataan otonom yang mematikan dan pengawasan massal, tetapi lebih dari itu," bunyi surat tersebut.
Karyawan Google menyebut pengembangan senjata otonom dan pengawasan massal adalah contoh penggunaan berbahaya terhadap kecerdasan buatan.
"Satu-satunya cara untuk menjamin bahwa Google tidak dikaitkan dengan bahaya tersebut adalah dengan menolak beban kerja rahasia apa pun. Jika tidak, maka penggunaan tersebut dapat terjadi tanpa sepengetahuan kami atau kekuatan untuk menghentikannya," demikian pernyataan tersebut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Nvidia dilarang jual chip, perang chip AI AS dan China memanas
Baca juga: Perang AI ChatGPT vs DeepSeek dan peluang ekonomi bagi Indonesia
Baca juga: Google Cloud nilai Indonesia pasar menyeluruh untuk ekosistem digital
Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·