Rupiah Bertahan di Level Rp17.142 Per Dolar AS pada Rabu Pagi

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Nilai tukar rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) terpantau masih bertahan di posisi Rp17.142 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (15/4/2026) pagi. Kondisi kurs domestik ini tercatat stagnan dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan pada hari sebelumnya.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, rupiah dinilai sulit untuk kembali ke level Rp16.000 per dolar AS dalam waktu dekat meski indeks dolar AS terus melemah. Indeks mata uang Negeri Paman Sam tersebut turun dari level 100 ke posisi 98,06 setelah melemah selama tujuh hari beruntun.

Penurunan indeks dolar AS memberikan dampak bervariasi terhadap mata uang di kawasan Asia. Ringgit Malaysia tercatat menguat 0,11 persen dan dolar Singapura naik 0,02 persen, sementara won Korea Selatan dan yen Jepang justru tergelincir masing-masing 0,03 persen serta 0,04 persen.

Sentimen global juga dipengaruhi oleh harga minyak mentah jenis Brent yang merosot 4,6 persen ke angka US$94,79 per barel pada pukul 07:10 WIB. Penurunan harga komoditas ini memberikan ruang bagi fiskal Indonesia karena mendekati asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Faktor domestik menjadi penghambat penguatan rupiah yang lebih signifikan, salah satunya adalah tingginya permintaan dolar AS di dalam negeri. Kebutuhan korporasi untuk membayar utang luar negeri dan biaya impor energi masih menjadi tekanan utama bagi stabilitas mata uang Garuda.

Persepsi risiko terhadap aset pasar negara berkembang yang masih tinggi juga memengaruhi aliran modal asing ke Indonesia. Meskipun lelang surat utang domestik mengalami kenaikan penawaran hingga 34 persen, ketidakpastian global membuat arus modal masuk belum mampu menopang rupiah secara berkelanjutan.

Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) yang tetap menarik bagi investor menjadi bantalan pertahanan, namun hal ini sekaligus mencerminkan tingginya premi risiko. Tekanan defisit fiskal akibat gangguan rantai pasok global turut menjadi beban bagi pergerakan mata uang dalam negeri.

Secara teknikal, terdapat potensi penguatan rupiah menuju level resistance terdekat di angka Rp17.100 per dolar AS. Jika tren positif berlanjut, posisi mata uang Indonesia diprediksi dapat mencapai Rp17.050 hingga level paling optimis pada Rp17.000 per dolar AS dalam jangka pendek.

Batas support psikologis rupiah saat ini berada pada angka Rp17.150 per dolar AS. Apabila level tersebut tertembus, mata uang berpotensi melemah lebih jauh ke arah Rp17.200 hingga Rp17.400 per dolar AS sesuai dengan pergerakan teknikal harian.