Rupiah Melemah ke Posisi Rp17.124 Per Dolar AS Rabu Pagi

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan ke level Rp17.124 pada Rabu (15/4/2026) pagi di tengah bayang-bayang lonjakan inflasi global. Pergerakan mata uang Garuda ini tercatat terkontraksi meskipun ketegangan geopolitik antara AS dan Iran mulai mereda melalui rencana kesepakatan gencatan senjata.

Data pasar spot menunjukkan rupiah sempat dibuka stagnan sebelum akhirnya tergelincir ke zona merah sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz. Tren penurunan ini juga dialami oleh sejumlah mata uang Asia lainnya seperti yen Jepang, dolar Hong Kong, yuan offshore, yuan China, dan peso Filipina.

Kondisi berbeda dialami oleh dolar Taiwan, ringgit Malaysia, won Korea Selatan, dan dolar Singapura yang terpantau berhasil bangkit kembali atau rebound. Penguatan mata uang tersebut terjadi bersamaan dengan melandainya indeks dolar AS ke posisi 98,14 pada periode perdagangan yang sama.

Bloomberg Economics memproyeksikan adanya ancaman inflasi global yang diperkirakan menyentuh angka 4,2% pada kuartal IV-2026 mendatang. Angka tersebut menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan posisi Desember 2025 yang berada di level 3,1% akibat dampak lanjutan konflik internasional.

Lembaga riset tersebut juga memperingatkan bahwa inflasi dunia berpotensi melonjak hingga 5,4% apabila terjadi eskalasi konflik di masa depan. Sentimen risiko ini terus membayangi pasar keuangan global meskipun harga minyak saat ini mulai stabil di bawah US$100 per barel.

Penurunan harga minyak dunia ternyata belum mampu memberikan dorongan yang cukup kuat untuk mengangkat kembali nilai tukar rupiah secara signifikan pagi ini. Para pelaku pasar masih bersikap waspada terhadap rilis data ekonomi global terbaru serta kepastian stabilitas politik di Timur Tengah.