Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah sebesar 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp 17.143 per dollar AS pada akhir perdagangan Rabu (15/4/2026). Penurunan mata uang Garuda ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat aksi blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran.
Dilansir dari Money, pelemahan nilai tukar ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap gangguan jalur distribusi energi global di Selat Hormuz. Militer Amerika Serikat secara resmi telah menghentikan seluruh aktivitas perdagangan laut yang keluar dan masuk dari wilayah Iran melalui pelabuhan-pelabuhan strategis.
Langkah Washington tersebut diambil setelah perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran yang berlangsung di Pakistan mengalami kegagalan. Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah memberikan peringatan keras kepada kapal perusak milik Amerika Serikat agar menjauh dari kawasan Selat Hormuz.
"Blokade laut terhadap Iran berpotensi meningkatkan gangguan pengiriman di Selat Hormuz, terutama jika Teheran membalas langkah tersebut dengan kekuatan militer," kata Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas. Jalur ini merupakan titik vital yang memasok sekitar 20 persen kebutuhan minyak mentah dunia.
Ketegangan ini berdampak langsung pada revisi pertumbuhan ekonomi nasional dan global. Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5 persen dari sebelumnya 5,1 persen, sementara Bank Dunia memangkas proyeksinya ke angka 4,7 persen.
Meskipun demikian, Bank Pembangunan Asia (ADB) tetap optimis bahwa ekonomi Indonesia dapat tumbuh di level 5,2 persen pada 2026 karena dorongan konsumsi domestik. Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai serangan militer baru di kawasan konflik tersebut meskipun kondisi gencatan senjata dilaporkan masih dalam keadaan rapuh.
Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya akan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Mata uang Indonesia diperkirakan akan bergerak pada rentang Rp 17.140 hingga Rp 17.180 per dollar AS menyusul masih tingginya tekanan eksternal dan sentimen risiko di pasar keuangan.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·